Kisah Sound System Masjidil Haram Tidak Jadi Bid'ah

KISAH SOUND SYSTEM MASJIDIL HARAM TIDAK JADI BID'AH

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Sya'rawi adalah satu dari sekian ulama dunia yang cukup berpengaruh pada abad ke-20, baik dalam bidang keagamaan, sosial, maupun politik internasional. Bahkan tidak berlebihan jika ada yang menggelarinya Mujaddid Abad 20, Imam Du'at Imamnya para Pendakwah, atau ada juga yang menyebutnya sebagai Bapaknya para Mufassir Kontemporer.

Alhamdulillah atas izin Allah, bisa duduk sejenak menyerap nafas perjuangan beliau. Merenung lebih dalam disebelah pusara beliau. Karyanya digunakan dimana-mana termasuk yang cukup populer Kitab Tafsir As-Sya'rawi, tausyiahnya bisa didengar setiap saat di bus-bus/ angkot-angkot, toko-toko, dan pasar-pasar, fotonya bahkan menghiasi banyak dinding dan sudut-sudut kota hingga hari ini, kurang 3 hari cukup 24 tahun beliau meninggal dunia.

Berbagai fatwa dan sikapnya masih relevan dan menjadi rujukan dunia Islam saat ini, ia dikenal dan dikenang bukan hanya karena ilmu dan pengaruhnya tapi juga kerendahan hatinya. Ia pernah didapati membersihkan hatinya dengan membersihkan toilet masjid, padahal baru saja ribuan jamaah pengajiannya bubar dari masjid tersebut. 

Beliau Ulama yang diterima ilmunya, mengajar dan mempunyai pengaruh besar di dua negeri, Mesir dan Saudi. Bahkan beliau bisa berpengaruh ditengah perbedaan kutub manhaj dan ditengah ketegangan politik Mesir dan Saudi saat itu. 

Beliau juga jadi sosok yang berjasa sehingga di Masjidil Haram kini kita bisa menikmati lantunan indah bacaan imam dan kumandang adzan yang merdu, dulu Ulama Saudi menganggap mic dan sound system untuk sholat itu diharamkan karena dianggap bid'ah sesat, sampailah kemudiaan datang Syeikh As-Sya'rawi beserta para ulama meluruskan pemahaman yang keliru tersebut. 

$ads={1}

Beliau juga pernah berhasil menggagalkan inisiatif Ulama dan pemerintah saudi memindahkan Maqam Ibrahim dari sisi Kakbah. Dengan jasa beliau kita bisa melihat petilasan tersebut saat tawaf di Masjidil Haram hingga saat ini.

Banyak kiprahnya, banyak jasanya, banyak karyanya. Saat meninggal, lebih dari satu juta orang dalam keadaan duka mengantarkan jenazahnya dan memadati jalan-jalan di Kota Kairo. 

Ada hal yang menjadi kegelisahan besar saya setelah pulang dari menziarahi makam sosok yang sangat kharismatik ini, bahkan terbilang 24 tahun setelah beliau meninggal masih sangat dicintai oleh warga Mesir dan kaum muslimin. Lahul Fatihah.. 

Syeikh Sya'rawi mewariskan jalan hidup yang mahardika dan hadir sebagai oase keteladanan pada umat. 

Sepulang dari ziarah, saya diliputi kegelisahan dan kecemburuan mendalam.  Dari sisi ilmu sudah pasti kita kalah dan tidak sampai pada kemuliaan beliau, dari sisi amal shaleh dan kiprah dalam dunia Islam juga tidak bakal kesampaian sepak terjang kita, jangan tanya dosa, pasti dosa kita lebih banyak, kita juga kalah amal jariyah, aset wakaf Syeikh As-Sya'rawi terbilang banyak dan tidak berhenti mengalirkan manfaat untuk orang-orang yang masih hidup, berkunjung ke Majma'nya bisa melihat Lembaga Pendidikan, Lembaga Al Quran Al Karim, Lembaga Kemanusiaan, Perpustakaan, bahkan Rumah Sakit wakaf. Saya pulang membawa nasihat pada diri, jangan mati sebelum meninggalkan aset wakaf yang semoga walau usia kita putus pahalanya mengalir terus. 

Baca Juga: Kisah Syekh Mutawalli Asy-Sya'rawi Mengakui Kesalahan Pendapat di Depan Umum

Jika belum bisa kita berwakaf sendiri, marilah kita berjamaah berwakaf di Pondok Modern Kurir Langit menghadirkan pesantren tak berbayar untuk masa depan generasi yang siap memimpin tanah air dan dunia. Semoga Allah izinkan wakaf-wakaf kita menjadikan Ujunge-Maruala (Umara) Kab. Barru, Sulawesi Selatan sebagai Madinatul Hikmah. Allahumma.. Iftah Lanaa Futuha Sya’rawi.

Oleh: Syahid Fii Sabilillah, Ziarah Desa Daqadus, Mith Ghamr, Mesir.

Demikian Artikel " Kisah Sound System Masjidil Haram Tidak Jadi Bid'ah "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama