Nyai Linawati: Banyak Kiai Minta Tashih Nasab Tanpa Data Sah

NYAI RADEN AYU LINAWATI: BANYAK KIAI MINTA TASHIH NASAB TANPA DATA SAH

RUMAH-MUSLIMIN.COM | NASAB - Isu keabsahan jalur nasab kembali ramai diperbincangkan di kalangan pesantren dan akademisi setelah pernyataan tajam disampaikan oleh Nyai Raden Ayu Linawati melalui laman Facebook pribadinya pada Kamis pagi. Tokoh perempuan yang dikenal sebagai ahli nasab Walisongo itu secara blak-blakan membongkar kisah di balik permintaan tashih nasab dari sejumlah kiai, salah satunya KH. Thobary Syadzily.

Dalam keterangannya, Nyai Linawati menyebut bahwa KH. Thobary Syadzily pernah beberapa kali mengajukan permintaan tashih nasab kepadanya. Namun, ia memilih diam karena menemukan ketidaksesuaian data dan jalur nasab yang menurutnya tidak dapat diverifikasi.

“Dulu, beberapa kali KH. Thobary Syadzily minta tashihkan nasabnya ke saya, tapi karena jalur nasabnya zig-zag, nggak jelas, dan nama-nama yang disodorkan tidak terkonfirmasi di manuskrip-manuskrip kuno Tuban, Demak, Cirebon, & Banten — alias nama fiktif — makanya saya diamkan saja. Tidak saya jawab.”

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa jika seseorang memang jujur dan ingin mencari kebenaran tentang nasabnya, maka responsnya akan berbeda. Ia menyinggung bahwa KH. Thobary semestinya mengakui apa adanya, bukan hanya berdalih sedang "ngetes" kemampuan sang ahli nasab.

“Kalau beliau jujur, pasti beliau akan jawab iya, bukan hanya sekadar ‘ngetes’. Sama halnya seperti ribuan kiai lainnya yang selama 13–15 tahun ini minta tashihkan nasabnya ke saya. Bahkan kalau datang ke tempat saya dulu, ber-bus-bus dan ber-mobil-mobil. Ini faktanya...”

Baca juga: Menyikapi Polemik Karomah Para Habaib dan Menelisik Keasliannya  

Nyai Linawati juga mengingat kembali bahwa KH. Thobary pernah meminta bantuannya lebih dari tiga kali. Namun, ia tetap menolak memberikan jawaban karena merasa perlu menjaga perasaan dan martabat sang kiai, mengingat data yang disodorkan tak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan historis.

“Karena seingat saya, Kiai Thobary meminta tolong ke saya lebih dari 3 kali, dan jalur nasab yang beliau sodorkan jalur zig-zag tidak jelas. Nama-nama yang beliau sodorkan tidak terkonfirmasi di data manuskrip Tuban, Banten, dan Cirebon, juga Tasikmalaya & Demak. Makanya saya diam, tidak menjawab, karena menjaga perasaan & kehormatan beliau saja...”

Namun yang mengejutkan, lanjutnya, adalah munculnya nama Nurfadhil — sosok lain yang menurutnya selama lebih dari satu dekade meminta data nasab kepadanya — yang kini justru menjadi rujukan KH. Thobary untuk mendapatkan kekancingan (pengakuan) dan gelar nasab.

“Tiba-tiba sekarang Kiai Thobary meminta tolong tashihkan nasabnya ke Nurfadhil dan dapat kekancingan dan gelar. Padahal Nurfadhil selama 13 tahun minta data-data nasabnya ke saya semua, dan Kiai Thobary tahu itu...”

Nyai Linawati mengklaim memiliki dokumen silsilah penting, termasuk babon (dokumen primer) silsilah Kesultanan Cirebon dan Banten yang panjangnya mencapai enam hingga dua belas meter. Ia juga menegaskan kedekatannya dengan tokoh-tokoh kraton ternama sebagai bukti otoritasnya di bidang tersebut.

$ads={1}

“Dan Kiai Thobary tahu saya memegang babon silsilah Kesultanan Cirebon panjang 6 meter dan 12 meter, juga babon silsilah Kesultanan Banten turun-temurun. Makanya Kiai Thobary tanya ke saya 3 kali dalam 10 tahun. Bukan ‘ngetes’ itu...”

“Dan KH. Thobary tahu saya sangat dekat dengan Gusti Sultan Saladin Kraton Kanoman dan Mama Pangeran Maulana Cakraningrat (alm.), Mama Yayi dan ayah angkat saya sekaligus...”

Lebih jauh, ia mengungkap keprihatinan terhadap praktik penyalinan data oleh oknum-oknum tertentu. Disebutkan bahwa fotokopi lembaran data yang pernah ia berikan kepada KH. Dahlan Pasuruan kini justru disalahgunakan, bahkan dijadikan landasan untuk meminta syahadah itsbat nasab ke luar negeri.

“Di data-data yang aslinya saya pegang sekarang, bisa ada ribuan nama-nama orang Pasuruan & orang-orang Madura yang mereka cantolkan. Aneh bin ajaib! Gara-garanya mereka mengambil fotokopi dalam lembaran-lembaran besar yang saya kasihkan ke KH. Dahlan Pasuruan dan sekarang dipegang Yek Muh & dijadikan hujjah meminta syahadah itsbat nasab ke negeri antah-berantah...”

Baca juga: Pakar Hukum; Tulisan Imaduddin bukan Tesis Tapi Makalah  

Ia pun menyayangkan banyaknya tokoh agama yang menjadi korban hoaks soal jalur nasab dan ikut menyebarkan informasi tanpa validasi, yang menurutnya sangat membingungkan umat.

“Banyak kiai korban hoaks. Ikut menebarkan fitnah & membingungkan umat... Benar-benar akhir zaman...!!!”

Lebih lanjut, ia menyinggung fenomena "kiai zaman sekarang" yang menurutnya lebih sibuk dalam persaingan status nasab daripada menjadi panutan keilmuan dan spiritualitas umat.

“Kiai zaman sekarang lebih pantas jadi tontonan daripada tuntunan umat. Sibuk rebutan nasab sampai gegeran gede se-Indonesia Raya.”

(Tapi tidak semua kiai begitu. Masih banyak yang alim, tawadhu, dan ahli akhirat. Ikuti mereka saja.)

Salah satu klaim paling kontroversial yang ia angkat adalah soal nasab Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah yang sering dikaitkan dengan Sayyid Ali ar-Ridha bin Imam Musa al-Kadzim. Menurut Nyai Linawati, hal ini bertentangan dengan ribuan manuskrip asli yang ia miliki.

“Banyak kiai percaya dikibulin kalau nasab Syarif Hidayatullah dan Walisongo bersambung ke Sayyid Ali ar-Ridha bin Imam Musa al-Kadzim, padahal di ribuan manuskrip Walisongo dan 11 manuskrip andalan mereka tidak ada nama Sayyid Ali ar-Ridha bin Imam Musa al-Kadzim. Adanya: KAJA, KALIJAM, KULABANG...!!!!!!”

Dalam penutup tulisannya, ia mengingatkan bahwa mengaku sebagai keturunan seseorang tanpa dasar yang sah secara hukum syar’i dan historis, apalagi mengubah “bin” secara sembarangan, termasuk dalam kategori dosa besar bahkan bisa berimplikasi pada kekafiran.

“Miris. Apa mereka tidak tahu hukum mengaku-aku ber-‘bin’ kepada bin orang lain itu haram & pelakunya menjadi kafir, tempatnya di neraka...???”

Baca juga: Nyai Raden Ayu Linawati: Nasab Ba'alawi dan Walisongo Tidak ada Bukti Kitab Sezaman 

Ia menyerukan agar masyarakat dan para tokoh belajar ilmu nasab kepada ahli yang terpercaya dan bukan kepada orang-orang yang gemar berpindah-pindah klaim asal-usul tanpa dasar yang valid.

“Makanya, belajar ilmu nasab dengan baik dan benar, langsung kepada ahlinya. Jangan kepada bakul cendol & bakul sapi yang sudah pindah nasab, gelar, dan fam lima kali. Saya yang 12 tahun membantu mereka saja mumet...”

“Sekarang malah pindah jadi keturunan Jet Lee di Yunnan, China, pakai babad Tuban karya Tan Khoen Swie dan bin patok kuburan Aceh.”

Redaksi mencatat bahwa hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari KH. Thobary Syadzily maupun pihak terkait lainnya. Namun demikian, pernyataan Nyai Raden Ayu Linawati ini memantik diskusi luas di kalangan santri, peneliti sejarah Islam Nusantara, dan pegiat silsilah keulamaan. Klarifikasi dan keterbukaan dari berbagai pihak tentu sangat dibutuhkan untuk menghindari polemik berkepanjangan.

Sumber: Nyai Raden Ayu Linawati

Editor: Hendra, S/rumah-muslimin

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama
close