KONTROVERSI JALUR NASAB WALISONGO KE SAYYID AJAL, NYAI LINAWATI SEBUT REKAYASA SEJARAH
RUMAH-MUSLIMIN.COM | WALISONGO - Isu mengenai asal-usul nasab Walisongo kembali memunculkan perdebatan di kalangan sejarawan maupun masyarakat umum. Salah satu yang bersuara tegas dalam polemik ini adalah Nyai Raden Ayu Linawati, seorang ahli nasab Walisongo, yang menolak klaim bahwa jalur keturunan Walisongo terhubung dengan tokoh Sayyid Ajjal Shamsuddin Omar Al-Bukhari, gubernur Yunnan di Tiongkok pada era Dinasti Yuan.
Melalui laman facebooknya yang diunggah pada kamis (28/8/25, Menurutnya, klaim tersebut tidak sejalan dengan hasil penelitian DNA maupun bukti sejarah tertulis yang sahih.
“Haplogroup Sayyid Ajjal Shamsuddin Omar Al-Bukhari adalah L1a-M76. Sementara hasil tes DNA 371 dzurriyat Walisongo adalah Haplogroup O-M175,” jelas Nyai Raden Ayu Linawati.
Ia menambahkan bahwa hasil tersebut bahkan merupakan dokumen resmi milik pemerintahan Tiongkok, bukan milik masyarakat Indonesia maupun Malaysia.
“Dan ini syahadah itsbat nasab milik pemerintahan Tiongkok, bukan milik orang Indonesia & bukan milik orang Malaysia. Kalian jangan tertipu,” tegasnya.
$ads={1}
Lebih jauh, ia mengkritik keras upaya sebagian pihak yang menghubungkan nasab Walisongo dengan Sayyid Ajjal Syamsuddin Omar Al-Bukhari hanya berdasarkan catatan sejarah Tiongkok. Menurutnya, sumber yang digunakan hanyalah hasil imajinasi sejarawan modern tanpa bukti manuskrip fisik dari masa Walisongo.
“Jalur Nasab Walisongo ke Sayyid Ajjal Syamsudin Omar Al Bukhari Gubernur Yunan China menggunakan hujjah kronik China fiktif hasil imajinatif Slamet Mulyana di Klenteng Sam Po Kong Semarang yang sampai detik ini selama 500 tahun tidak ada bukti fisik manuskripnya sama sekali,” jelasnya.
Baca juga: Nyai Linawati: Banyak Kiai Minta Tashih Nasab Tanpa Data Sah
Nyai Linawati juga menyoroti penggunaan Babad Tuban versi tahun 1938 sebagai dasar legitimasi sejarah. Ia menegaskan bahwa babad tersebut berbeda jauh dengan naskah asli abad ke-17 yang ditulis di atas lontar kuno.
“Juga menggunakan hujjah Babad Tuban gubahan Tan Khoen Swie tahun 1938 Masehi. Isinya berbeda jauh dengan Babad Tuban yang asli dalam lembaran lontar kuno abad ke-17 Masehi,” ungkapnya.
Ia lalu menegaskan perbedaan penting dalam penulisan tokoh-tokoh ulama dalam naskah kuno dibandingkan dengan gubahan modern tersebut.
“Babad Tuban asli menuliskan Jamaluddin al-Kabir atau Jumadil Kabir berbeda orang dengan Jamaluddin al-Kubro atau Syekh Jumadil Kubro, kakek dari para Walisongo di Indonesia,” tambahnya.
Menurut Nyai Linawati, penyebaran narasi yang tidak sesuai dengan sumber kuno ini merupakan bentuk manipulasi sejarah. Ia bahkan menyebut hal itu sebagai upaya penipuan publik.
“Ini namanya penipuan publik dan penyebaran berita bohong serta berita hoax. Mereka merekayasa nasab Walisongo menggunakan kronik China fiktif dan Babad Tuban zaman penjajahan Belanda tahun 1938, bukan manuskrip-manuskrip zaman Walisongo, bukan manuskrip kuno,” tegasnya.
Baca juga: Menyikapi Polemik Karomah Para Habaib dan Menelisik Keasliannya
Ia menantang para pengusung teori tersebut untuk membuktikan klaim mereka dengan menghadirkan manuskrip asli dari era Walisongo, bukan rekonstruksi yang dipaksakan dari sumber luar Nusantara.
“Kalau ada, silakan hadirkan manuskrip asli milik Walisongo dan keturunannya dari abad ke-14 Masehi, abad ke-15 Masehi, dan abad ke-16 Masehi. Saya akan taslim,” ujarnya.
Sebagai penutup, Nyai Linawati menolak keras upaya mencocok-cocokkan naskah asing dengan silsilah keturunan Walisongo di Indonesia. Ia menilai hal tersebut tidak sesuai dengan ribuan manuskrip dan ratusan ranji yang dimiliki keluarga besar Walisongo sendiri.
“Bukan manuskrip hasil cucokologi dengan naskah Yunnan dan Pakistan, karena isinya tidak sama dengan ribuan manuskrip dan ratusan ranji silsilah di Indonesia milik keluarga besar Walisongo sendiri,” pungkasnya.
Polemik mengenai asal-usul nasab Walisongo menunjukkan betapa pentingnya kehati-hatian dalam menelusuri sejarah. Nyai Raden Ayu Linawati menegaskan bahwa klaim yang menghubungkan Walisongo dengan Sayyid Ajjal Shamsuddin Omar Al-Bukhari tidak memiliki dasar kuat dalam manuskrip kuno maupun bukti fisik yang sahih. Sebaliknya, ia menilai penggunaan kronik Tiongkok fiktif serta Babad Tuban gubahan era kolonial justru berpotensi menyesatkan publik.
Kesimpulan
Melalui pernyataannya, Nyai Linawati menyerukan agar penelitian sejarah tetap berlandaskan pada naskah otentik milik keluarga besar Walisongo yang telah diwariskan turun-temurun di Nusantara. Baginya, hanya dengan menghadirkan manuskrip asli dari abad ke-14 hingga ke-16, perdebatan ini dapat menemukan titik terang.
“Kita jangan sampai tertipu oleh naskah gubahan dan cucokologi. Keaslian nasab Walisongo harus dirujuk pada manuskrip kuno Nusantara, bukan pada kronik asing yang isinya tidak sama dengan ranji keluarga Walisongo sendiri,” tutupnya.
Sumber: Nyai Raden Ayu Linawati
Editor: Hendra, S/Rumah-muslimin