Kisah 9 Karomah Habib Umar bin Yahya Yang Diceritakan Habib Luthfi

KISAH 9 KAROMAH HABIB UMAR BIN YAHYA YANG DICERITAKAN HABIB LUTHFI

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Habib Umar bin Yahya Indramayu adalah keturunan Rasulullah Saw ke-36. Marga beliau adalah Yahya.

Adapun silsilahnya adalah Umar bin Isma’il bin Ahmad bin Syaikh bin Thaha bin Masyikh bin Ahmad bin Idrus bin Abdullah bin Muhammad bin Alawi bin Ahmad bin Yahya bin Hasan bin Ali bin Alawi bin Muhammad bin Ali bin Alawi bin Muhammad bin Ali Muhammad Shahib al-Mirbath bin Ali Khali Qasim bin Alawi bin Muhammad bin Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir Ilallah bin Isa an-Naqib bin Muhammad an-Naqib bin Ali al-Aridh bin Ja’far ash-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zain al-Abidin bin Husain bin Fathimah az-Zahra binti Muhammad Rasulullah Saw.

$ads={1}

Habib Umar adalah salah seorang keturunan Alawiyah. Beliau dilahirkan berasal dari Palimanan, pada tahun 1223 H ada riwayat juga 1210 H. Beliau pertama kali belajar diberangkatkan oleh orang tuanya al-Habib Thaha bin Hasan bin Thaha bin Yahya (Ciledug, Jati Se’eng), pertama kali ke Mekkah al-Mukaramah selama 5 tahun.

Baca Juga :

Kisah Mbah Moen Beli Makanan Di Warung Non Muslim

Ada banyak karomah yang dimiliki Oleh Habib Umar. Berikut kisah karomah yang dimilikinya:

Pertama, sejak usia remaja, beliau mengembara menuntut ilmu dari satu pondok pesantren ke pondok pesantren yang lain. Pesantren yang beliau singgahi pertama kali adalah pondok pesantren Ciwedus Cilimus Kuningan Jawa Barat yang diasuh oleh KH. Ahmad Shobari. Menurut cerita KH. Ahmad Shobari adalah orang yang pertama kali bai’at tarekat kepada beliau, padahal usia Abah Umar di kala itu masih relatif muda. Dari Ciwedus, beliau bertemu dengan KH. Abdul Halim, seorang kyai muda dari Majalengka Jawa Barat yang juga pernah menjadi murid KH. Ahmad Shobari.

Dua tahun kemudian beliau pindah ke pondok pesantren Bobos Palimanan Cirebon yang dipimpin oleh Kyai Sujak. Pada tahun 1916 beliau pindah lagi ke pondok pesantren Buntet Astanajapura Cirebon Jawa Barat yang diasuh oleh KH. Abbas. Kemudian setelah satu tahun di sana, beliau pergi ke pondok pesantren Majalengka yang diasuh oleh KH. Anwar dan KH. Abdul Halim.

Di pondok pesantren Majalengka ini, Abah Umar menimba ilmu selama lima tahun. Tahun keenam Abah Umar diangkat sebagai tenaga pengajar tetap di madrasah yang didirikan oleh KH. Abdul Halim. Di sini beliau seringkali terlibat dalam diskusi dengan para tokoh di pesantren maupun para tokoh yang berada di persyarikatan ulama sehingga nama beliau cepat terkenal.

Kedua, setiap menjelang masuknya bulan sya’ban Habib Umar selalu mengenakan pakaian yang sangat rapi setelah itu beliau pergi ke tepi pantai. Dalam waktu beberapa detik, beliau sudah menghilang dan beliau akan muncul kembali di tempat yang sama satu bulan kemudian. Lantas kemanakah perginya beliau selama satu bulan itu?

Baca Juga :

Habib Umar bin Hafidz : Sekilas Mengenai Kehidupan Imam Syafi'i

Ketiga, menurut Maulana Habib Luthfi bin Yahya selama satu bulan Habib Umar bin Yahya berada di Jabal Qof (gunung Qof ) dan mengimami sholat jamaah bersama para awliya di sana.

Keempat, selama satu bulan itu pula Habib Umar menjalankan puasa ramadhan di sana. Karena selisih waktu antara Jabal Qof dengan waktu di dunia ini adalah satu bulan. Jadi, jika di dunia ini masih tanggal 1 Sya’ban maka di Jabal Qof sudah masuk tanggal 1 Ramadhan dan awal Ramadhan di dunia ini adalah awal Syawal (idul fitri) di Jabal Qof. Jadi ketika beliau kembali ke Indramayu, beliau sudah menjalankan puasa ramadhan di Jabal Qof.

Kelima, Maulana Habib Luthfi juga menceritakan tentang salah seorang murid Habib Umar bin Yahya Indramayu yang di bawa ke Kota Madinah hanya dalam waktu satu detik. Murid itu namanya adalah Mbah Darwo, saat itu ia sedang berada di pengimaman masjid Indramayu bersama Habib Umar. Ia diajak pergi ke kota Madinah oleh Habib Umar dengan perjalanan tempuh hanya satu detik dan menjalankan sholat jamaah di sana.

Keenam, Setelah selesai sholat Habib Umar mengajak ia pulang kembali ke kampung halamannya di Indramayu, namun Mbah Darwo lebih memilih menetap di Madinah dan ia tinggal di sana selama 7 tahun. Selama waktu itu pula ia menimba ilmu kepada para masyayih yang tinggal di Madinah sehingga sepulang dari sana dia menjadi orang yang alim.

Ketujuh, Mbah Darwo awalnya adalah seorang penjahat yang paling ditakuti di desanya lantaran kesaktianya. Ia dikenal menguasai berbagai macam ilmu hitam dan ilmu kekebalan. Perjalanan taubatnya bermula ketika ia bertemu dengan salah seorang santri Habib Umar, singkat cerita ketika ia hendak menyatroni santri itu, si santri berteriak dengan menyebut nama Habib Umar seketika itu pula semua ilmu hitam yang dimiliki Mbah Ddarwo lenyap dari dalam tubuhnya sehingga dia tidak bisa berbuat apa apa.

Melihat keramat Habib Umar yang luar biasa itu akhirnya ia meminta kepada santri itu untuk di antarkan ke kediaman Habib Umar. Setibanya di sana ia menyatakan taubatan nasuha di hadapan Habib Umar dan berjanji untuk tidak mengulangi perbuatanya lagi. Sejak saat itu ia menjadi pelayan Habib Umar yang setia.

Kedelapan, selain Mbah Darwo sebenarnya banyak murid murid Habib Umar yang menjadi ulama besar di antaranya adalah Sipitung ( pendekar legendaris dari betawi ) KH Muqoyyim (Pendiri Pondok Pesantren Buntet), KH Sholeh (Pendiri Pondok Pesantren Benda Kerep) selama 40 tahun. KH Sholeh Benda Kerep menjalankan sholat Isya dan Subuh berjamaah di belakang Habib Umar. Masih banyak lagi murid murid beliau yang menjadi ulama besar.

Kesembilan, posisi kewalian Habib Umar bukan hanya sebagai Himayah anil bala’ (penangkal turunnya bencana) tetapi juga sebagi pengayom umat. Sumbangsih beliau dalam mensejahterakan kaum fuqoro wal masakin sangatlah besar. Beliau memiliki tanah yang luasnya mencapai ratusan hektar, dari hasil pertaniannya itu beliau gunakan untuk membantu fuqoro wal masakin.

Beliau juga menaruh perhatiaan yang sangat besar terhadap dunia pendidikan. Beliau tidak senang apabila melihat para gus (putra kyai) yang tidak menyebarkan ilmunya, maka agar mereka tetap bisa menyebarkan ilmunya semua kebutuhan hariannya ditanggung oleh Habib Umar. Habib Umar wafat pada tahun 1883 M.

Baca Juga :

Kewalian Abah Guru Sekumpul Tak Lepas Dari Doa Ayahandanya

*Naskah ini disarikan dari ngaji Maulana Habib Luthfi bin Yahya pada pengajian rutin bulan suci ramadhan.

*Habib Umar adalah buyutnya Habib Lutfi sendiri. Urutannya adalah Habib Lutfi bin Ali bin Hasyim bin Umar.

(Mukhlisin)

Sumber Artikel : www.bangkitmedia.com

Demikian artikel " Kisah 9 Karomah Habib Umar bin Yahya Yang Diceritakan Habib Luthfi "

Semoga kisah diatas bermanfaat untuk kita yang membacanya...

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama