Karomah Habib Hasan bin Yahya, Menantu Sultan Hamengku Buwono II


KAROMAH HABIB HASAN BIN YAHYA, MENANTU SULTAN HAMENGKU BUWONO II

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Nama asli beliau adalah Al Allamah Al Arif billah Al Habib Hasan bin Thoha Bin Yahya, secara nasab beliau masih keturunan Al Quthb Habib Syech bin Ahmad bin Yahya. Seorang wali quthb yang mastur dan terkenal ahli menghentikan segala macam bentuk pertikaian dan perpecahan. Beliau ini juga merupakan datuk Syaikhina Maulana al-Habib Muhammad Luthfi bin Yahya Pekalongan.

Berikut ini adalah silsilah Maulana Habib Luthfi yang bersambung sampai kepada Habib Hasan, Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Umar bin Thoha bin Hasan bin Thoha bin Yahya.

Nasab Habib Hasan sendiri adalah sebagai berikut:

Al-Arif Billah al-Quthb al-Habib Hasan bin

Al-Quthb Thaha bin

Al-Quthb ‘ulum Muhammad al-Qadhi bin

Al-Quthb Thaha bin

Al-Quthb Muhammad bin

Al-Quthb Kabiir Syekh bin

Al-Quthb Ahmad bin

Al-Quthb Sulthanul Awliya al-Imam Yahya bin

Al-Quthb Hasan al-Akmar bin

Al-Quthb Ali an-Naas bin

Al-Quthb Imam Alwy bin

Syaikh Muhammad Maula Ad-Dawilah bin

Syaikh Ali Shohibud Dark bin

Sayyidina Al-Imam Alwi Al-Ghuyur bin

Sayyidina Al-Imam Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad bin

Sayyidina Ali bin

Sayyidina Al-Imam Muhammad Shohib Marbat bin

Sayyidina Al-Imam Khali’ Qatsam bin

Sayyidina Alwi bin

Sayyidina Al-Imam Muhammad Shohib As-Shouma’ah bin

Sayyidina Al-Imam Alwi Shohib Saml bin

Sayyidina Al-Imam Ubaidillah Shohibul Aradh bin

Sayyidina Al-Imam Muhajir Ahmad bin

Sayyidina Al-Imam Isa Ar-Rumi bin

Sayyidina Al- Imam Muhammad An-Naqib bin

Sayyidina Al-Imam Ali Al-Uraydhi bin

Sayyidina Al-Imam Ja’far As-Shodiq bin

Sayyidina Al-Imam Muhammad Al-Baqir bin

Sayyidina Al-Imam Ali Zainal Abidin bin

Sayyidina Al-Imam As-Syahid Syababul Jannah Sayyidina Al-Husein Ra.

Sang Ayah Pejuang Besar

Habib Hasan adalah putra Habib Thoha, seorang ulama yang allamah dan sekaligus seorang pejuang yang gigih melawan penjajah Portugis. Dulu ketika beliau baru pulang dari tanah suci Makkah dan singgah di Malaka, saat itu Malaka sedang melakukan pertempuran melawan Portugis. Oleh Sultan Malaka, Habib Thoha diminta untuk membantu mengusir penjajah Portugis.

Beliau langsung bergegas menuju tepi pantai untuk memberi peringatan kepada kapten kapal perang Portugis agar tidak mendaratkan kapal perangnya ke pelabuhan, namun mereka mengabaikan peringatan dari beliau. Akhirnya dengan keramatnya Habib Thoha, air laut yang sebelumnya tenang tiba-tiba berubah menjadi badai ombak besar setinggi pohon kelapa menggulung dan menghantam kapal perang portugis dan membuatnya hancur berkeping-keping. Tapi anehnya tidak ada satu awak dan penumpang kapal yang tewas, semuanya selamat mereka hanya pingsan dan terdampar di tepi pantai.

$ads={1}

Salah satu kebiasaan Habib Thoha adalah mengenakan cadar. Konon wajah beliau kerap kali memancarkan cahaya yang sangat terang dan saking terangnya pancaran cahaya wajah beliau tidak ada orang yang sanggup memandang wajah beliau. Habib Thoha wafat di Penang Malaysia dan dimakamkan di sana.

Habib Hasan juga memiliki hubungan kekerabatan dengan keluarga Keraton Yogyakarta, karena beliau adalah menantu Sultan Hamengku Buwono II atau ipar dari Sultan Hamengku Buwono III (ayahnya Pangeran Diponegoro). Dengan demikian, jika ditinjau dari hubungan kekerabatan, Raden Tumenggung Sumodiningrat atau Habib Hasan adalah paman dari Pangeran Diponegoro.

Perjuangan beliau melawan penjajah Belanda bermula di Banten. Saat itu Banten dipimpin oleh Sultan Rofiuddin. Habib Hasan di samping sebagai Mufti Kesultanan Banten beliau juga seorang pejuang yang gigih melawan penjajah Belanda.

Baca Juga :

Kisah Ayah Crew Majelis Rasulullah SAW Yang Wafat Dengan Tersenyum

Senopati Agung Mataram

Atas kegigihan dan keberaniannya melawan penjajah beliau dijuluki sebagi Singa Barong, setelah berjuang di Banten beliau melanjutkan dakwah dan perjuangan ke Pekalongan. Di sana beliau membangun pesantren di desa Nglesok, beliau dan para santrinya terus melakukan perlawanan terhadap Belanda. Setelah itu beliau melanjutkan perjalanannya ke Semarang.

Kisah keberanian dan kegigihan Habib Hasan melawan penjajah ternyata terdengar oleh Sultan Hamengku Buwono II dan membuat sang Sultan takjub atas kegigihan dan keneraniannya melawan penjajah, akhirnya Habib Hasan diangkat menjadi menantu Sultan Hamengku Buwono II. Di samping menantunya Habib Hasan juga diangkat sebagai Senopati Agung Mataram.

Selaku panglima perang, Habib Hasan memimpin pasukan yang jumlahnya mencapai 15 ribu prajurit yang terbagi menjadi tiga bagian. Lima ribu prajurit untuk pasukan darat. Dan lima ribu lagi untuk pasukan laut dan sisanya untuk pasukan cadangan.

Habib Hasan bersama sahabatnya yaitu Raden Ronggo Prawiroddirjo (ayah Raden Sentot Prawirodirjo) saling bahu membahu mempertahankan wilayah Yogyakarta dari agresi militer Belanda. Berkat kecerdikan beliau dalam mengatur strategi perang, Belanda seringkali mengalami kegagalan untuk menguasai wilayah Yogyakarta.

Karena merasa kesal dengan Habib Hasan yang selalu menghalangi Belanda untuk menguasai wilayah Yogyakarta, akhirnya Belanda menggunakan siasat licik mereka menyuruh orang-orang bayaran untuk menyamar sebagai Raden Tumenggung Sumodiningrat atau Habib Hasan. Orang-orang bayaran ini di ugaskan untuk gemar mabuk-mabukkan dan main judi.

Tujuannya adalah untuk menghancurkan reputasi dan nama baik beliau dan supaya rakyat Mataram membenci sosok Raden Tumenggung Sumodiningrat atau Habib Hasan. Namun berkat kesigapan beliau dalam mengatasi masalah semua siasat licik Belanda untuk menghancurkan nama baiknya berhasil digagalkan.

Perguruan Pencak Silat

Semenjak Habib Hasan menetap di Mataram, beliau mendirikan perguruan pencak silat. Perguruan pencak silat ini diberi nama oleh beliau dengan nama pencak silat Capit Ular. Sebelum wafat, Habib Hasan menyerahkan perguruan pencak silatnya kepada putranya yaitu Habib Thoha Ciledug Cirebon (penyusun Rotibul Kubro).

Di bawah kepemimpinan Habib Thoha perguruan pencak silatnya diganti namanya menjadi Sipedi. Habib Hasan wafat pada tahun 1818 M dan dimakamkan di depan pengimaman masjid Al Hidayah taman Dukuh Lamper, Semarang.

Baca Juga :

Habib Umar bin Hafidz : Sekilas Mengenai Kehidupan Imam Syafi'i

Kisah ini dipaparkan oleh Syaikhina Maulana al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Umar bin Thoha bin Hasan bin Yahya Pekalongan pada pengajian Ramadhan Tahun 1434 H/2013 M. Wallahu A’lam Bish shawab.

Alfaatihah...

Demikian kisah " Karomah Habib Hasan bin Yahya, Menantu Sultan Hamengku Buwono II "

Semoga bermanfaat bagi para pembaca...

Sumber: Habib Shofwan Alwie Husein.

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama