Hukum dan Dalil Membaca Manaqib, Kitab Maulid Para Wali dan Sholihin

HUKUM DAN DALIL MEMBACA MANAQIB, KITAB MAULID PARA WALI DAN SHOLIHIN

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Riwayat, kisah, manaqib atau sejarah kehidupan orang-orang shaleh banyak terdapat dalam al-Quran maupun al-Hadits, semisal Ashabul Kahfi, Raja Dzulqurnain, Sayyidatuna Maryam, Sayyidina Luqmanul Hakim dan lain sebagainya.

Syeikh Abu Ishaq Ibrahim bin Ahmad Ismail Al-Khawwash (wafat 291H) berkata: “Obat hati ada lima perkara: Membaca Al Quran dengan tadabbur (merenungkan isi dan maknanya), mengosongkan perut (yakni dengan berpuasa atau mengurangkan makan), bangun malam beribadat, tadharru’ di waktu sahur, dan berkumpul dengan orang-orang sholeh”

Selain itu tersebut di dalam kitab Risalah al-Mustarsyidin karya al-Muhasibi yang ditahqiq dan diberi komentar oleh Syeikh ‘Abdul Fattah Abu Ghuddad. Di dalam kata pendahuluan Syeikh ‘Abdul Fattah Abu Ghuddad di dalam cetakan ketiga, beliau ada menyentuh mengenai membaca riwayat orang sholeh juga boleh mengobati hati, untuk lebih lanjut bisa rujuk kitab bersangkutan, Antara yang beliau sebut adalah: Imam Junaid al-Baghdadi رضي الله عنه pula berkata: Hikayat (kisah orang-orang sholeh) itu adalah merupakan tentera dari tentera-tentera Allah Ta’ala dimana Allah menetapkan hati para auliyaNya dengan kisah-kisah tersebut. Maka ditanyai oleh orang kepada Imam Junaid: 

Apakah engkau mempunyai dalil yang mendukung ucapanmu itu? Maka beliau menjawab: Dalil atau penyokong bagi kenyataannya itu adalah firman Allah:

وَكُلًّا نَّقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنۢبَآءِ ٱلرُّ‌سُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِۦ فُؤَادَكَ

Dan tiap-tiap berita dari berita Rasul-rasul itu, kami ceritakan kepadamu (wahai Muhammad), untuk menguatkan hatimu dengannya. (Surah Hud:120).

Al-Imam Abu Hanifah رضي الله عنهberkata: Hikayat-hikayat mengenai para ulama dan kebaikan mereka, lebih aku sukai daripada banyaknya ilmu fiqh, kerana hikayat-hikayat ini memuatkan adab-adab dan akhlak mereka.

Dan dalil yang mendukung hal tersebut adalah firman Allah:

 أُو۟لَـٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ هَدَى ٱللَّهُ ۖ فَبِهُدَىٰهُمُ ٱقْتَدِهْ

Artinya:Mereka (Nabi-nabi) itulah, orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka turutlah olehmu (wahai Muhammad) akan petunjuk mereka (al-An’am: 90)

$ads={1}

لَقَدْ كَانَ فِى قَصَصِهِمْ عِبْرَ‌ةٌ لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَـٰبِ

Artinya: Demi sesungguhnya, kisah Nabi-nabi itu mengandungi pelajaran yang mendatangkan iktibar bagi orang-orang yang mempunyai akal fikiran. (Yusuf: 111)

Muhammad bin Yunus berkata: Tiada melihat aku akan seuatu yang terlebih manfaat bagi hati daripada mengingati riwayat hidup orang-orang soleh.

Baca Juga :

Sunnah, Rukun dan Wajib Dalam Melaksanakan Ibadah Haji

Sufyan bin Uyainah رضي الله عنهmengatakan bahawa ketika menyebut orang-orang sholeh akan bercucuran rahmat.

Duduk bersama orang-orang sholeh atau mendengar percakapan (nasihat) mereka atau mendengar hadits dari mereka atau membaca manaqib dan keutamaan mereka adalah daripada perkara yang membuat hati tenang dengannya, dada menjadi lapang dan membaikkan akhlaq dan ‘amalan.

Berkata al-Hafidz al-Qurasyi رحمه الله تعالىpada pembukaan kitab beliau al-Jawahir al-Mudhiyyah, beliau berkata: Segolongan daripada salaf dalam mentafsirkan firman Allah Ta’ala yang bermaksud: “Ketahuilah dengan dhikrullah itu, tenang tenteramlah hati-hati manusia”. Yaitu adalah menyebut para shahabat Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم yang telah hasil bagi mereka kemuliaan seperti ini, kerana: mereka pernah melihat Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم , ilmu yang mereka raih dan mereka telah mengikuti Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم dengan sebaik-baiknya. Para tabi’in juga memiliki kemuliaan yang sedemikian, maka dengan menyebut mereka tenteramlah dengannya hati-hati. Dan demikian juga orang-orang yang sesudah mereka yang mengikuti mereka sebaik-baiknya sehingga hari kiamat. (kutipan tulisan Syeikh ‘Abdul Fattah Abu Ghuddah)

$ads={2}

Di dalam kitab Jala adh-Dholaam ‘ala ‘Aqidatil Awwam pula disebutkan: Ketahuilah! Sayogia bagi setiap muslim yang menuntut kelebihan dan kebaikan (dari Allah Ta’ala) bahwa dia mencari barakah, nafahat, makbulnya doa dan turunnya curahan rahmat pada auliya’ di dalam majlis perhimpunan mereka, samada ketika mereka masih hidup atau telah meninggal dunia, ketika berada disisi kubur mereka atau ketika berziarah atau ketika menyebut keutamaan mereka dan membaca manaqib mereka.

Dan di dalam di dalam kitab Ainul Adab was Siyasah, halaman 158, disebutkan: Sayyiduna Umar bin al-Khattab رضي الله عنهberkata: “Hendaklah kalian mendengar cerita-cerita tentang orang-orang yang memiliki keutamaan, kerana hal itu termasuk dari kemuliaan dan padanya terdapat kedudukan dan kenikmatan bagi jiwa”.

Di dalam kitab tersebut juga, menyebut: Ali bin ‘Abdurrahman bin Hudzail berkata: “Ketahuilah, bahawa membaca kisah-kisah dan sejarah-sejarah tentang orang yang memiliki keutamaan akan memberikan kerehatan (kesenangan) dalam jiwa seseorang. Kisah-kisah tersebut akan melegakan hati serta mengisi kehampaan. Membentuk watak yang penuh semangat dilandasi kebaikan, serta menghilangkan rasa malas”.

Kata al-Habib ‘Ali bin Muhammad bin Hussin al-Habsyi رضي الله عنه (pengarang kitab Maulid Simtud Durar):Jika riwayat hidup kaum ‘arifin dibacakan kepada orang yang beriman, maka keimanannya kepada Allah akan semakin kukuh. Sebab, kehidupan mereka merupakan cermin daripada Kitabullah yang didalamnya terkandung ilmu orang-orang terdahulu dan yang datang kemudian atau gambaran dari hadits-hadits Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم atau dari pengetahuan yang dia terima langsung dari Nabi صلى الله عليه وآله وسلم tanpa perantara.

Al-'Arifbillah al-Quthb al-Habib Ahmad bin Hasan al-Atthas رضي الله عنه sewaktu beliau berada di kota Tarim pada suatu majlis yang dihadiri oleh banyak orang dari golongan Saadah Bani Alawi dan lainnya. Setelah selesai pembacaan kitab dan qasidah daripada kalam salaf (para leluhur ahlulbait terdahulu), beliau رضي الله عنه berkata: Apabila seseorang merasakan hatinya susah atau anggota badannya terasa malas untuk melakukan amal kebajikan, maka lihatlah atau bacalah kalam (ucapan) para salaf, agar hilang perasaan susah dan rasa malas yang ada pada dirinya. Janganlah seseorang memaksakan diri untuk melakukan hal-hal yang tidak mampu untuk dilakukan. Bertakwalah kepada Allah semampumu. Bersyukurlah kepada Allah jika engkau diberi taufiq untuk dapat melakukan amal-amal shaleh.

Baca Juga :

Jawaban Adzan Hayya 'Alal Sholah dan Hayya 'Alal Falah Yang Benar

Dalam kitab/buku Al-Qirthos fi Manaqibil 'Atthos hal 43., Habib Ali bin Hasan Al-'Aththas menulis, "Di antara hal yang mendorongku untuk menulis buku ini adalah apa yang disebutkan oleh pengarang kitabA'malut Tarikh : "Barang siapa menulis tarikh seorang wali Allah Ta'ala maka kelak di hari kiamat ia akan bersamanya. Dan barang siapa membaca nama seorang wali Allah dalam kitab tarikh dengan rasa cinta, maka ia seakan-akan menziarahinya. Dan barang siapa menziarahi wali Allah, maka semua dosanya akan diampuni Allah selama ia tidak mengganggu seorang muslim pun dalam perjalanannya."

Kabar gembira di atas tentu tidak hanya menyenangkan hati Habib Ali bin Hasan yang telah menulis Al-Qirthos, tapi juga kita. Itulah sebabnya kami tuliskan nama orang-orang yang dicintai Allah berikut kisah hidup dan ajaran mereka dengan harapan agar kita semua dapat mengenal, menyayangi, dan meneladani mereka.

Dalam kitab Bughyat al-Mustarsyidin halaman 97 disebutkan sebuah hadits tentang pentingnya dan manfaat menuliskan sejarah orang-orang yang shaleh:

وَقَدْ وَرَدَ فِي اْلَاثَرِ عَنْ سَيِّدِالْبَشَرِ صَلى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَنَّهُ قاَلَ :مَنْ وَرَّخَ مُؤْمِناً فَكَأَنمَّاَ اَحْياَهُ وَمَنْ قَرَأَ تاَرِيْخَهُ فَكَأَنمَّاَ زَارَهُ فَقَدْاسْتَوْجَبَ رِضْوَانَاللهِ فيِ حُزُوْرِالْجَنَّةِ.

Rasulullah Saw. bersabda: “Barangsiapa membuat sejarah orang mukmin (yang sudah meninggal) sama saja ia telah menghidupkannya kembali. Dan barangsiapa membacakan sejarahnya seolah-olah ia sedang mengunjunginya. Maka Allah akan menganugerahi baginya ridhaNya dengan memasukkannya di surga.”

Dan juga hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi:

مَنْ وَرَّخَ مُسْلِمًا فَكَأَ نَّمَا اَحْيَاهُ وَمَنْ زَارَ عَالِمًا فَكَأَ نَّمَا زَارَنِى وَمَنْ زَارَنِى بَعْدَ وَفَاتِى وَجَبَتْ لَهُ شَفَاعَتِى

Rasulullah Saw. bersabda: “Barangsiapa membuat tarikh (biografi) seorang muslim, maka sama dengan menghidupkannya. Dan barangsiapa ziarah kepada orang alim, maka sama dengan ziarah kepadaku (Nabi Saw.). Dan barangsiapa berziarah kepadaku setelah aku wafat, maka wajib baginya mendapat syafaatku esok di hari kiamat.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi).

Dalam kitab Jala’ adz-Dzulam ‘ala ‘Aqidat al-‘Awam dijelaskan:

اِعْلَمْ يَنْبَغيِ لِكُلِّ مُسْلِمٍ طاَلِبُ الْفَضْلِ وَالْخَيْرَاتِ اَنْ يَلْتَمِسَ الْبَرَكاَتِ وَالنَّفَحَاتِ وَاسْتِجاَبَةِ الدُّعاَءِ وَنُزُوْلِ الرَّحْماَتِ فِي حَضَرَاتِ اْلأَوْلِياَءِ فِي مَجاَلِسِهِمْ وَجَمْعِهِمْ اَحْيَاءً وَأَمْوَاتاً وَعِنْدَ قُبُوْرِهِمْ وَحَالَ ذِكْرِهِمْ وَعِنْدَ كَثْرَةِ الْجُمُوْعِ فِي زِياَرَاتِهِمْ وَعِنْدَ مَذَاكَرَاتِ فَضْلِهِمْ وَنَشْرِ مَناَقِبِهِمْ

“Ketahuilah seyogyanya bagi setiap muslim yang mencari keutamaan dan kebaikan, agar ia mencari berkah dan anugerah serta terkabulnya doa dan turunnya rahmat di depan para wali, di majelis-majelis dan perkumpulan mereka, baik masih hidup ataupun sudah mati, di kuburan mereka ketika mengingat mereka, dan ketika orang banyak berkumpul dalam menziarahi mereka, dan pembacaan riwayat hidup mereka (manaqiban).”

Dalam sebuah hadits riwayat ad-Dailami dalam kitab Musnad al-Firdaus diriwayatkan dari Sayyidina Mu’adz bin Jabal Ra.:

ذكر الأنبياء من العبادة وذكر الصالحين كفارة وذكر الموت صدقة وذكر القبر يقربكم من الجنة

“Mengingat para nabi adalah ibadah, mengingat orang-orang shaleh adalah kafarat/tebusan (bagi dosa), mengingat mati adalah sedekah dan mengingat kubur mendekatkan kalian kepada surga.” Imam as-Suyuthi dalam al-Jami’ ash-Shaghir dan Imam al-Munawi dalam Faidh al-Qadir mengatakan hadits ini dha’if (bisa diamalkan sebagai fadhail al-‘amal).

قال سفيان بن عيينة رحمه الله تعالى: عند ذكر الصالحين تنزل الرحمة

Imam Sufyan bin ‘Uyainah Ra. mengatakan: “Ketika disebut-sebut orang-orang yang sholeh maka turunlah rahmat.”

Imam Junaid al-Baghdadi berkata: “Hikayat (kisah orang-orang shaleh) itu merupakan tentara dari para tentara Allah Swt., dimana Allah menetapkan hati para kekasihNya dengan kisah-kisah tersebut.” Maka Imam Junaid ditanya: “Apakah engkau mempunyai dasar atas ucapanmu itu?” Maka beliau menjawab: “Dalil baginya adalah firman Allah Swt.: “Dan semua kisah-kisah para Rasul itu Kami ceritakan kepadamu (wahai Muhammad), yang dengannya Kami teguhkan hatimu.” (QS. Hud ayat 120).”

Al-Habib Ahmad bin Hasan al-Atthas berkata: “Jika engkau memandang seorang yang shaleh dan istiqamah, khusyu’ dan wara’, lalu kau bandingkan akhlakmu dengan akhlaknya, amalmu dengan amalnya, keadaanmu dengan keadaannya, maka kau akan mengetahui aib dan kekuranganmu. Setelah itu akan mudah bagimu untuk memperbaiki ucapan dan perbuatanmu yang salah, lahir maupun batin. Itulah sebabnya kita dianjurkan untuk bergaul dengan orang-orang yang shaleh dan mulia serta dilarang bergaul dengan selain mereka. Sebab watak seseorang akan mencuri watak orang lain. Jika tidak kau temukan teman duduk yang shaleh, pelajarilah buku, sifat, riwayat hidup dan semua perilaku kaum shalihin.”

Al-Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf berkata: “Aku teringat pada suatu kalam seorang shaleh yang mengatakan: “Tidak ada yang menyebabkan manusia rugi, kecuali keengganan mereka mengkaji buku-buku sejarah kaum shalihin dan berkiblat pada buku-buku modern dengan pola pikir moderat.” Wahai saudara-saudarku! Ikutilah jalan orang-orang tua kita yang shaleh, sebab mereka adalah orang-orang suci yang beramal ikhlas. Ketahuilah salaf kita tidak menyukai ilmu kecuali yang dapat membuahkan amal shaleh.”

INDAHNYA BERBAGI KEBAIKAN-SEMOGA BERMANFAAT

Allahumma shalli  'alaa Sayyidina Muhammad wa'alaa alihi wa shahbihi wa baarik wa sallim

Oleh : Kyai Sumarsam, Katib PCNU Lubuklinggau, Sumatera Selatan

Demikian artikel " Hukum dan Dalil Membaca Manaqib, Kitab Maulid Para Wali dan Sholihin "

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama