Aliran Thariqah Terkenal di Indonesia yang Menyesatkan

ALIRAN THARIQAH TERKENAL DI INDONESIA YANG MENYESATKAN

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Periode tahun 1999 sampai dengan 2002, saya pernah terjebak ke dalam kelompok "tasawuf" sesat. Pada awalnya, sang "mursyid" dari kelompok tasawuf itu mengaku bertoriqot qodiriyyah-naqsyabandiyyah. Namun, ketika ditanya dari mana beliau mengambil sanad toriqohnya, beliau memberi jawaban beragam. Terkadang beliau mengatakan bahwa beliau mengambil sanad dzikir dari Mbah Mangli di Magelang. Terkadang beliau katakan bahwa beliau mendapat silsilah dari al-Habib Umar bin Hud al-Atthas. Terkadang beliau mengatakan bahwa beliau mendapat mandat dari Kiai Hasyim Zaini Paiton. 

Pada mulanya saya percaya saja dengan penuturannya, karena saya meyakini bahwa seorang "mursyid" tidak mungkin berdusta dengan tarekat yang dibimbingnya. Setiap malam jum'at, tarekat yang saya ikuti mengadakan praktik zikir berpindah-pindah tempat. Kadang kegiatan diadakan di Kayu Manis, kadang di Kalideres, kadang di Jakasampurna, kadang di Klender, kadang di  Depok, dan kadang di Setia Budi. 

Berpindah-pindahnya lokasi zikir itu menurut sang "mursyid" didasarkan kepada petunjuk dari "mursyid"-nya. Menurutnya, isyarat itu diterima dari sang mursyid agung. Tapi mursyid agung yang dimaksud, beliau tidak pernah menjelaskan. Zikir diadakan dengan cara mematikan lampu, dengan mengucapkan "La ilaha illa Allah" sebanyak-banyaknya hingga mengalami kondisi naza' (ekstase). Peserta zikir itu umumnya dari kalangan karyawan dan mahasiswa. Tampaknya "mursyid" sengaja menyasar kalangan intelektual dan kalangan kelas menengah untuk menjadi muridnya. 

Tahun 2002, secara kebetulan saya mendapat penugasan dari kantor tempat bekerja untuk melakukan perjalanan dinas ke Probolinggo. Seorang kawan di Probolinggo menyampaikan informasi tentang pesantren besar yang terkenal, Zainul Hasan Genggong dan Nurul Jadid. Secara kebetulan, kawan mengajak saya ke Pesantren Nurul Jadid Paiton. Dan atas izin Allah, rupanya nama besar Kiai Hasyim Zaini saya jumpai di Paiton, namun sayang beliau telah wafat. Dalam kesempatan berjumpa dengan keluarga besar Nurul Jadid, saya bertanya kepada Kiai Nurchatim Zaini perihal wirid yang biasa diijazahkan oleh Kiai Hasyim Zaini. Saya bertanya apakah Kiai Hasyim Zaini pernah mengajarkan wirid dalam bahasa bangsa jin seperti ini "kai kamusin sarohiyan namu salahin saito rubbi ya bardasin sakkhirly yakhdimuni bi khothfih". Mendengar bacaan wirid itu, wajah Kiai Nurchatim Ziani terlihat keheranan. Kata beliau, sang kakak, Kiai Hasyim Zaini tidak pernah mengajarkan bacaan wirid seperti itu, dan beliau menjamin bahwa bacaan itu 100 persen bukan berasal dari sang kakak. Saya pun kaget mendengar penjelasan Kiai Nurchatim tersebut. Beliau bertanya dari mana saya mendapat wirid dalam bahasa jin itu. Saya katakan bahwa saya mendapatkannya dari seorang mursyid di Jakarta. Beliau hanya menganggukan kepala seperti tidak ingin membuat saya kecewa. Lalu beliau menulis di secarik kertas kepada saya sebuah wirid"

بسم الله الرحمن الرحيم الكريم المنان ذى الطول

bismillahir rahmanir rahim al-karim al-mannan dzil t-thawl

Sambil menyerahkan kertas kepada saya, beliau berpesan agar saya mengamalkan wirid yang diijazahkan dari Kiai Hasyim Zaini. Saya pun menerima ijazah mulia dari beliau itu, dan sejak saat itu beliau mengangkat saya sebagai santrinya. 

$ads={1}

Selama perjalanan pulang dari Probolinggo ke Jakarta, muncul keraguan di dalam diri terhadap kelompok tasawuf yang saya ikuti. Jangan-jangan "mursyid" yang saya ikuti, adalah mursyid palsu. Dan tarekat yang saya ikuti bukanlah tarekat yang diakui oleh para ulama...

Berapa hari setelah kembali dari Probolinggo, saya pun menjumpai sang "mursyid". Saya sampaikan kepada beliau bahwa saya berjumpa dengan keluarga besar Kyai Hasyim Zaini Paiton. Mendengar itu, sang "mursyid" pun terlihat agak kaget. Tidak tampak dari wajahnya tanda kebahagiaan bahwa saya bisa berjumpa dengan keluarga almarhum Kyai yang namanya selalu disebut di dalam dzikir. Biasanya, Jika seorang murid berhasil menjumpai ulama atau keluarganya yang dijadikan sebagai rujukan di dalam bertarekat, sang guru ikut bergembira karena sang murid betul-betul ingin menguatkan hubungan batin dalam bertarekat.

Baca Juga: Tasawuf Sebagai Dasar Thariqah Alawiyah

Tapi keheranan itu tetap tidak menyurutkan saya untuk selalu mengikuti majelis-majelis dzikir yang diadakan. Sampai tibalah bulan Ramadan, kegiatan dzikir diadakan di Depok di sebuah rumah yang mirip dengan Padepokan. Di tempat itu, sang mursyid memperkenalkan saya dengan beberapa orang, satu diantaranya sedang populer saat ini.

Zikir diadakan di bagian tengah rumah yang berarsitektur Jawa. Ternyata rumah itu milik seorang insinyur yang mempunyai selera seni tinggi. Setelah kegiatan dzikir, kami pun diajak berbincang-bincang dengan orang-orang yang sudah ada lebih dulu di tempat itu. Sampai tidak terasa obrolan sudah memasuki jam 3 pagi. Saya pun bertanya kenapa dalam kesempatan yang bagus ini tidak diadakan kegiatan shalat tarawih berjamaah. Menurut saya, kumpulan majelis tasawuf adalah kumpulan orang-orang yang mencintai ibadah. Secara spontan, orang yang bernama Pak Nasri merespon pertanyaan saya. Menurutnya, orang yang sudah mengetahui identitas ruhnya tidak akan dibebani oleh ibadah-ibadah yang sifatnya fisik. Justru orang yang sudah mengetahui ruhnya, bisa membedakan antara aktivitas ruh dengan aktivitas fisik.

Penjelasan Pak Nasri itu mengundang keingintahuan saya. Lalu saya bertanya tentang apa yang dimaksud mengetahui identitas ruh. Beliau menjawab bahwa yang dimaksud mengetahui identitas ruh adalah mengetahui nama ruh kita masing-masing, dan mengetahui siapa bapak ruh kita. Saya pun semakin penasaran dengan penjelasan itu. Lalu saya tanya bagaimana cara mengetahui identitas ruh kita dan mengetahui nama roh kita. Lalu saya pun bertanya kembali, kenapa Nabi Muhammad tidak menjelaskan perihal ini di dalam hadis- hadisnya.

Mendengar pertanyaan yang saya sampaikan secara beruntun itu, orang yang bernama Pak Nasri tadi hanya tertawa terbahak-bahak. Sambil mencolek mursyid saya, dia berkata bahwa saya adalah orang yang terlalu syariat. Katanya, orang yang seperti saya ini sulit terbuka hijabnya untuk bisa makrifat kepada Allah. Saya pun terheran-heran dengan pernyataan orang tersebut. Apalagi sejak waktu salat Isya datang hingga pukul 3 pagi saya perhatikan Pak Nasri dan kawan-kawannya itu tidak bergeming dari tempat mereka ngobrol. Artinya, Ia dan kawan-kawannya sejak tadi tidak melaksanakan shalat Isya. Barangkali ruhaninya sudah melaksanakan shalat Isya di tempat yang tidak kami ketahui waktu itu.

Pengalaman dzikir di Depok itu yang membuat saya ditegur oleh sang mursyid agar tidak bertanya terlalu jauh kepada orang-orang hakekat. Beliau mengatakan, ente jangan gunakan logika jika ingin memahami hakekat. Karena hakikat tidak bisa dijangkau dengan logika. Tentu saja, teguran mursyid ini terdengar janggal bagi saya. Karena Alquran yang berbicara tentang makrifat hakikat dan syariat saja masih menuntut manusia agar menggunakan pikiran dan akal. Bahkan, dalam keyakinan saya Alquran yang merupakan sumber dari ajaran makrifat masih melahirkan logika agar manusia bisa memahami makrifat itu secara terstruktur, sistematis, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Setelah ketidakpuasan atas teguran sang mursyid pasca kegiatan zikir Ramadhan di Depok itu saya mulai bertanya-tanya tentang orisinalitas atau keaslian dari pengajian tasawuf yang saya ikuti ini. Hari demi hari mengikuti majelis tasawuf ini, saya menemukan berbagai keanehan yang ditunjukkan oleh sang mursyid. Sebutan mursyid agung yang selalu dijadikan sebagai rujukan dalam melakukan berbagai kegiatan, ternyata ditujukan kepada sosok rijalul ghaib yang menurutnya hanya bisa dilihat oleh orang-orang yang kasyaf (terbuka mata batinnya). 

Saya pun bertanya kenapa seorang mursyid tidak dibimbing oleh seorang manusia yang kualitas ruhaninya berada di tingkat yang lebih baik. Saya juga bertanya lagi tentang yang dari mana asal-usul beliau mengambil sanad atau mata rantai thoriqoh. Pertanyaan-pertanyaan kritis saya itu yang akhirnya mendorong sang mursyid memerintahkan saya melakukan khalwat selama 7 hari di satu rumah yang telah disediakan. Selama khalwat, saya dilarang berbicara dengan siapapun, dan saya harus berpuasa selama tujuh hari tujuh malam.

Baca Juga: Kalimat Dzikir 'Huwa' di berbagai Thariqah

Perintah itupun saya lakukan. Kata beliau, selama saya masih menggunakan cara berpikir syariat, saya akan selalu terhijab untuk bisa menggapai makrifat. Selama khalwat itu, Saya diberikan beberapa bacaan yang harus saya baca selama tujuh hari tujuh malam. Tapi sayangnya baru satu malam saya laksanakan khalwat, saya lebih tergerak untuk membaca Al-Qur'an yang saya bawa. Terkadang, setelah membaca Al-Qur'an, saya membaca Ratib Al- Haddad. Entah kenapa, ada perbedaan yang saya rasakan diantara membaca wirid-wirid yang diberikan sang mursyid dengan membaca Al-Qur'an serta Ratib al-Haddad. Bacaan Al-Qur'an dan Ratib Al-Haddad seperti menghadirkan kedamaian yang khas dan janji-janji yang akan diwujudkan. Sedangkan wirid-wirid yang diberikan sang mursyid justru menghadirkan rasa penasaran dan kegalauan.

Pada malam hari, setelah membaca Al-Quran dan Ratib Al-Haddad, mata terasa mengantuk sampai akhirnya saya pun lelap tertidur. Di dalam tidur itu saya bermimpi berjumpa dengan Habib Umar bin Hud Al-Athas. Saya belum pernah berjumpa dengan beliau semasa hidupnya. Tapi di dalam mimpi itu, wajah Habib Umar sangat terlihat jelas. Dengan bahasa isyarat, Habib Umar menyuruh saya untuk menyelesaikan khalwat dan pulang ke rumah. Rencana khalwat 7 hari pun gagal sudah. Mursyid saya begitu menyayangkan keputusan menyudahi khalwat hanya dalam waktu kurang dari 3 hari. Saya katakan kepada beliau bahwa isyarat yang saya dapat seperti itu.

Dari situ sebenarnya saya sudah ragu dengan ajaran tasawuf yang diajarkan oleh sang mursyid. Tapi saya ingin tahu apa yang selanjutnya ingin beliau sampaikan kepada saya dan teman-teman. Supaya saya yakin bahwa majelis yang saya datangi bukanlah majelis yang tepat.

Dalam pertemuan majelis berikutnya, sang Mursyid menjelaskan bahwa setiap murid harus mempunyai keterikatan ruh dengan mursyid, sesama teman majelis, dan pendamping-pendamping mereka di rumah masing-masing. Kata beliau, jika pasangan hidup itu tidak satu kumpulan ruh, maka kehidupan sang murid tidak akan dilimpahi keberkahan dan sulit untuk mendapatkan Nur dari Allah. Itu artinya, kata beliau, jika ingin mendapatkan Nur dari Allah, maka murid harus berani menceraikan pasangannya yang tidak punya ikatan ruh.

$ads={2}

Mendengar penjelasan seperti itu, sikap kritis saya bangkit. Setelah majelis, saya menyampaikan kepada sang mursyid bahwa penjelasan itu tidak saya jumpai sama sekali di dalam Al-Qur'an dan juga sunnah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Tapi lagi-lagi, jawaban beliau kepada saya adalah bahwa saya mencampuradukkan cara pandang syariat ke dalam tasawuf atau hakikat. Kata beliau, masalah ini tidak bisa dilihat secara syariat. Beberapa orang teman saya, diketahui akhirnya menceraikan istri-istri mereka karena taat kepada arahan mursyid. Sedangkan saya, memilih untuk menceraikan majelis itu daripada menceraikan istri saya.

Keluarnya saya dari majelis itu mengundang kekecewaan banyak kawan di sana. Tapi keputusan itu saya ambil karena saya meyakini bahwa tarekat tidak boleh menyimpang dari syariat.

Beberapa bulan setelah memutuskan keluar dari tasawuf yang menyimpang itu, saya mendapat isyarat untuk lebih sering mendekat kepada para habaib. Selain itu juga saya masih mendapat informasi tentang teman-teman yang berada di tempat saya dulu. Sedih mendengar kabar fulan bercerai dari istrinya, fulanah bercerai dari suaminya. Tapi yang membuat saya kaget sang mursyid seperti tidak bertanggung jawab terhadap fatwa-fatwa yang sudah ia sampaikan kepada para muridnya. Apalagi saya mendengar kabar bahwa sang mursyid sedang gandrung menjelaskan para khodam dari al-Asmaul Husna. Entah kegilaan apa yang sedang menjangkiti disana pada saat itu sampai-sampai nama Allah yang suci  mereka jadikan sebagai alat untuk menambah kesesatan mereka.

Inilah pengalaman selama tahun 1999 sampai tahun 2002, Semoga Allah selalu melindungi kita semua.

Oleh: KH. Abdi Kurnia Djohan

Demikian Artikel " Aliran Thariqah Terkenal di Indonesia namun Menyesatkan "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

1 Komentar

  1. sebut nama, ustadz ..... biar masyarakat awwam macam saya, bisa waspada, dan menjauhi nya ...

    BalasHapus
Lebih baru Lebih lama