Kisah Imam Sa’id bin Jubair Menjemput Syahid

KISAH IMAM SA'ID JUBAIR MENJEMPUT SYAHID

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Yang dikhawatirkan oleh orang-orang terhadap imam Sa’id bin Jubeir akhirnya benar-benar terjadi, sang gubernur Makkah Khalid bin Abdullah al Qasri akhirnya mengirim pasukannya yang dipimpin oleh seorang komandan yang bernama Multamis bin Ahwash untuk menangkap beliau.

Pasukan ini bergerak ke suatu daerah, hingga mereka sampai di sebuah biara, lalu menanyakan kepada pendeta penghuni biara tersebut tentang Sai’d bin Jubeir. Setelah disebutkan ciri-cirinya, pendeta itupun kemudian menunjukkan jalan menuju rumah Sa’id bin Jubeir rahimahullah.

Rombongan pasukan ini bergerak cepat menuju lokasi yang ditunjukkan. Dan benar di sana kemudian mereka menemukan sang imam sedang dalam keadaan sujud. Mereka memanggilnya dengan teriakan, sang imam dengan tenang mengakhiri shalatnya. Pasukan itu mendekat dan mengucapkan salam kepada beliau.

Sang imam menjawab salam mereka lalu bertanya, “Apakah aku harus ikut dengan kalian ?”

Mereka menjawab : “Iya, tidak boleh tidak.”

Sang imam bangkit sambil mengucap alhamdulillah. Lalu menyerahkan dirinya untuk dibawa oleh pasukan tersebut. 

Pasukan ini pun bergerak. Ketika mereka tiba kembali di biara tempat pendeta yang menunjukkan jalan, mereka mampir di sana. Sang pendeta mengatakan : “Sebentar lagi waktu malam akan tiba, masuklah kalian ke dalam biara. Karena biasanya singa-singa dan harimau akan berkeliaran mencari mangsa.”

Pasukan itupun masuk ke dalam biara, namun Sa’id bin Jubeir menolak dan meminta agar dibiarkan berada di luar biara. Multamis, si komandan pasukan itu menghardik beliau : “Apakah engkau ingin merencanakan untuk melarikan diri ?”

$ads={1}

Sa’id menjawab : 

لا، ولكن لا أدخل منزل مشرك أبدا

“Saya tidak akan melarikan diri. Tapi alasannya karena saya tidak akan mau masuk ke tempat kesyirikan selama-lamanya.”

Mereka mengatakan: “Jika kami biarkan engkau di luar, singa juga akan memangsamu.”

Sang imam kembali menjawab : 

لا ضير، إن معي ربي يصرفها عني، ويجعلها حرسا تحرسني

“Dia tidak akan membahayakanku. Sungguh yang bersamaku adalah Tuhanku. Bahkan Dia akan menjadikan singa itu sebagai penjaga untukku di malam ini.”

Pendeta itu bertanya kepadanya: “Apakah kamu seorang Nabi ?”

Sa’id menjawab : 

ما أنا من الأنبياء، ولكن عبد من عبيد الله مذنب

"Bukan.  aku bukan Nabi. Aku hanya hamba dari hamba-hamba Allah yang banyak dosanya.”

Akhirnya mereka meninggalkan sang imam berada di luar biara seorang diri, menutup semua pintu dan jendela rapat-rapat, tentu sambil membuat celah kecil guna bisa mengawasi dari balik jendela. Khawatir beliau celaka diterkam oleh singa atau malah melarikan diri.

Tidak lama kemudian datanglah seekor singa besar. Singa itu mendekati Sa’id bin Jubeir yang kala itu sedang mengerjakan shalat. Setelah mengamati beberapa saat, singa tersebut mendekat lalu menundukkan kepala kepada Sa'id bin Jubeir dan menjilat-jilat kepala beliau. 

Baca juga: Makam Ayah Nabi Muhammad: Jasad Utuh ketika Dipindahkan ke Makam Baqi

Tak lama datang lagi seekor singa lainnya, ia juga melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh singa yang pertama. Lalu kedua singa itu duduk di samping Sa'id yang tetap dalam keadaan mengerjakan shalat.

Seluruh pemilik mata yang menyaksikan itu dibuat takjub dengan pemandangan yang mereka lihat. Sepanjang malam kedua singa itu duduk menderum disamping imam Sa’id bin Jubeir yang sedang shalat seperti sedang menjaganya.

Ketika waktu pagi tiba, sang pendeta langsung turun menemui Sa’id dan bertanya beberapa hal tentang agama Islam. Beliau pun kemudian menerangkan tentang ajaran syariat dan sunnah Nabi shalallahu’alaihi wassalam. Akhirnya pendeta dan para penghuni biara lainnya mengucapkan kalimat syahadat.

Multamis sang komandan pasukan berkata: “Wahai Sa’id, kami memang diperintahkan untuk menangkapmu, namun, silahkan perintahkan kepada kami apapun yang engkau mau.”

Sa’id bin Jubeir menjawab :

امضوا لأمركم، فإني لائذ بخالقي ، ولا راد لقضائه

“Tunaikan tugas yang diperintahkan kepada kalian, aku meminta perlindungan hanya kepada penciptaku dan tidak ada yang bisa menolak taqdirNya.”

Akhirnya pasukan itu kembali bergerak menuju Kuffah untuk membawa sang imam kepada Hajjaj bin Yusuf. Ketika mereka telah sampai di daerah yang bernama Wasith, dekat dengan tempat yang mereka tuju, imam Sa’id meminta kepada mereka agar ia diperkenankan shalat sepanjang malam di tempat tersebut. Pasukan itupun mengizinkannya tanpa syarat apapun.

Malam itu mereka menatap sang imam dengan pandangan iba. Sa’id bin Jubeir sejak bersama mereka menolak untuk makan dan minum. Namun ia tidak nampak lemah sama sekali dalam mengerjakan ibadah. Dan malam itu mereka menyaksikan sang imam sujud sambil menangis sepanjang malam.

Setelah Sa’id selesai shalat, Multamis berkata kepadanya :

يا خير أهل الأرض، ليتنا لم نعرفك، ولم نسرح إليك، الويل لنا ويلا طويلا، كيف ابتلينا بك! اعذرنا عند خالقنا يوم الحشر الأكبر

“Wahai sebaik-baik penghuni bumi, seandainya saja kami ini tidak mengenalmu sama sekali, sehingga kami tidak terlibat dalam kasus ini. Celaka kami dengan kecelakaan sepanjang usia kami. Bagaimana bisa kami menyerahkan orang seperti dirimu ? Maafkan dan mohonkan ampun atas diri-diri kami pada hari mahsyar yang dahsyat nanti.”

Baca juga: Kisah Ibrahim bin Adam dan Lelaki Buntung

Imam Sa’id bin Jubeir menjawab dengan kelembutan dan mendoakan kebaikan untuk mereka. Komandan dan para pasukan itu semuanya menangis tersedu-sedu. Mereka sampai ada yang berkata : “Sungguh kami tidak akan bisa lagi bertemu dengan orang sepertimu selama-lamanya.”

Selanjutnya sang imam membersihkan diri dan pakaiannya. Setelah tiba waktu shubuh, beliau mengerjakan shalat lalu selanjutnya Ia bersiap-siap untuk segera bertemu sang jagal, Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqafi.

Ketika imam Said bin Jubeir rahimahullah telah berada di hadapan Hajjaj bin Yusuf, terjadilah dialog antara beliau dengan penguasa durjana tersebut.

Hajjaj bertanya : "Siapa namamu ?"

Sa'id : "Nama saya Sa'id bin Jubeir (Bahagia anak orang yang teguh)"

Hajjaj : "Bukan, tapi namamu adalah Syaqi bin Kusair (Si Celaka anak orang yang rusak)"

Sa'id : "Orang tuaku yang memberi namaku. Dia lebih tahu daripadamu"

Hajjaj : "Engkau Celaka. Ibu bapamu yang memberi namamu juga celaka".

Sa'id : "Yang tahu perkara ghaib itu bukan kamu.”

Hajjaj : "Diam kau ! Akan aku tukar tempatmu dari dunia pindah ke neraka !"

Sa'id : "Kalau aku tahu bahwa engkau yang berkuasa menentukan tempatku di akhirat, tentulah aku telah menyembahmu".

Hajjaj : "Apa pendapatmu tentang Muhammad ?"

Sa'id : "Dia Nabi yang membawa kasih sayang dan petunjuk".

Hajjaj : "Bagaimana pendapatmu tentang Ali bin Abi Thalib ? Adakah dia masuk syurga atau neraka ?"

Sa'id : "Jika saya telah ke syurga atau neraka, tentulah saya dapat memberitahu kamu siapa yang ada di dalamnya."

Hajjaj : "Bagaimana pula pendapatmu tentang khalifah-khalifah yang lainnya ?"

Sa'id : "Bukanlah pekerjaanku untuk menyelidiki amal dan kerja mereka".

Hajjaj : "Siapakah diantara mereka itu yang paling engkau sukai ?"

Sa'id : "Yang paling diridhai oleh penciptaku".

Hajjaj : "Siapa yang paling diridhai oleh sang pencipta ?”

Sa'id : "Ilmu tentang urusan itu disisiNya.” 

Hajjaj : “Aku senang engkau berkata jujur kepadaku.”

Sa’id : “Karena aku tidak suka untuk mendustaimu.”

Hajjaj : "Mengapa engkau tidak pernah ketawa ?"

Sa'id : "Siapalah gerangan akan ketawa, kalau dia tahu dia berasal dari tanah yang akan dibakar api".

Al-Hajjaj : "Jadi, salahkah kami kalau kami tertawa ?"

Sa'id : "Hati kita tidak sama".

Kemudian dibawalah kehadapan Sa’id bin Jubeir berbagai batu permata yang mahal-mahal dan harta yang banyak. Melihat itu Sa'id berkata: "Kalau harta ini bisa menebus dirimu dari huru-hara hari kiamat, beruntunglah kamu dapat mengumpulnya. 

Tetapi satu hentakan saja pada hari kiamat, dapat menggugurkan anak yang masih di dalam kandungan dan dapat melepaskan anak dari pangkuan ibunya. Tidak ada gunanya mengumpul harta, kalau tidak dapat menolong di hari kiamat. Harta tidak berfaedah kecuali yang diperoleh secara baik dan bersih".

Kemudian Hajjaj menyuruh orang memainkan alat-alat musik dan nyanyian di hadapan Sa'id. Mendengar bunyi-bunyian itu, beliau menangis. Hajjaj bin Yusuf lantas bertanya kepadanya : "Mengapa engkau menangis?"

Baca juga: Hubungan Imam Syafi’i dengan Sayyidah Nafisah

Sa'id : "Karena tiupan seruling ini mengingatkan aku akan tiupan sangkakala hari kiamat yang maha dahsyat".

Hajjaj : "Celakalah engkau Wahai Sa'id".

Sa'id : "Orang yang celaka adalah orang yang tidak dimasukkan ke syurga, tetapi justru dilemparkan ke dalam neraka"

Hajjaj : "Wahai Sa'id, pilihlah bagaimana cara aku membunuhmu !".

Sa'id : "Engkau sendiri yang berhak memilihnya. Demi Allah, cara apapun yang engkau tempuh untuk engkau membunuhku, engkau akan menerima hal yang sama".

Hajjaj : "Apakah engkau akan meminta ampun ? Aku bersedia mengampunimu.”

Sa'id : "Kalau ampunan itu dari engkau, aku tidak akan memohonnya. Ampunan itu milik Allah, karenanya aku cukup memohon terus kepadanya."

Hajjaj : "Bawalah dia, dan bunuhlah segera !"

Lalu Sa’di dibawa oleh pengawal Hajjaj, ketika akan keluar dari pintu ruangan. Justru beliau tertawa, satu hal yang sangat mengherankan termasuk para pengawal karena imam Sa’id tidak pernah tertawa. 

Hal itu lalu diberitahukan kepada Hajjaj. Ia pun menjadi sangat penasaran, Sa'id bin Jubeir pun diminta untuk dibawa kembali menghadap kepadanya.

Hajjaj : "Mengapa engkau tertawa ?"

Sa'id : "Aku sangat heran melihat keberanianmu terhadap Allah, dan aku takjub kelembutan Allah kepadamu".

Hajjaj sangat marah, dan kembali berkata : "Bunuhlah dia segera !"

Imam Sa'id bin Jubeir sedikit pun tidak merasa takut. Dengan bulat hati dia menyerahkan dirinya kepada Allah. 

Saat eksekusi akan dilaksanakan, wajahnya oleh algojo dihadapkan ke langit. Mulut sang imam menyebut-nyebut nama Allah dan kalimah suci. Melihat itu hati Hajjaj bertambah benci lalu berkata :

Hajjaj : “Bunuh dia !”

Algojo memiringkan wajah Sa'id untuk dipancung, namun  justru ia membaca ayat : 

وجهت وجهي للذي فطر السموات والأرض

"Sesungguhnya aku hadapkan muka dan diriku kepada Allah yang menciptakan langit dan bumi.”

Mendengar itu, Hajjaj bertambah benci lalu memerintah : "Jangan hadapkan mukanya ke arah kiblat ".

Mendengar perintah itu Sa'id membaca pula ayat yang lain :

 فأينما تولوا فثم وجه الله

“Dan ke mana saja kamu arahkan diri (ke kiblat untuk mengadap Allah) maka di situlah arah yang diridhoi Allah.”

Lalu Hajjaj berkata: "Hadapkan mukanya itu ke tanah !".

Sa'id membaca ayat lain :

منها خلقناكم، وفيها نعيدكم

“Dari tanahlah Kami ciptakan kamu, dan ke dalamnya Kami akan mengembalikan kamu.”

Hajjaj semakin gusar lalu berkata memerintah : "Pancunglah lehernya segera !”

Ketika kepalanya ditekan beliau berkata dengan lantang : 

إني أشهد وأحاج أن لا إله إلا الله، وحده لاشريك له، وأن محمدا عبده ورسوله، خذها مني حتى تلقاني يوم القيامة.

“Aku Bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusanNya, ambillah kesaksianku ini sampai kita bertemu nanti di hari kiamat.”

$ads={2}

Kemudian beliau melanjutkan membaca do’a :

اللهم لا تسلطه على أحد يقتله بعدي

“Ya Allah, jangan berikan kesempatan orang dzalim ini untuk membunuh siapapun lagi setelah aku.” 

Pedang pun dijatuhkan ke batang leher Sa'id rahimahullah. Terpisah kepala itu dari badannya. Manusia mulia inipun meraih syahid tertinggi sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam :

«سَيِّدُ الشُهَدَاءِ حَمْزَةُ بْنُ عَبْدُ الْمُطَلِّبِ، وَرَجُلٌ قَامَ إِلَى إِمَامٍ جَائِرٍ فَأَمَرَهُ وَنَهَاهُ فَقَتَلَهُ»

“Penghulu para syuhada’ adalah Hamzah bin ‘Abd al-Muthallib dan orang yang mendatangi penguasa dzalim lalu memerintahkannya (kepada kebaikan) dan mencegahnya (dari keburukan), kemudian ia (penguasa zhalim itu) membunuhnya.” (HR. Hakim)

Semoga-moga Allah ta’ala mencurahkan rahmat kasih sayangnya  kepada assyahid Sa'id bin Jubeir rahimahullah. 

Dan sejarah mencatat, Hajjaj hanya diberi umur tidak lebih dari 15 hari setelah kematian Sa'id bin Jubeir rahimahullah. Ia tertimpa penyakit yang aneh dan mengerikan. Alhamdulillah, akhirnya Allah pun mengistirahatkan hamba dan makhluknya dari segala kedzalimannya. 

Siyar A’lam Nubala (4/321-330)

Oleh: Ahmad Syahrin Thoriq 

Demikian Artikel " Kisah Imam Sa’id bin Jubair Menjemput Syahid "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Redaksi

Rumah Muslimin Grup adalah Media Dakwah Ahlusunnah Wal jama'ah yang berdiri pada pertengahan tahun 2017 Bermazhab Syafi'i dan berakidah Asyariyyah. Bagi sobat rumah-muslimin yang suka menulis, yuk kirimkan tulisannya ke email kami di dakwahislamiyah93@gmail.com

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama
close