Paulus Dalam Tafsir Ibnu Katsir dalam Pandangan Islam

PAULUS DALAM TAFSIR IBNU KATSIR DALAM PANDANGAN ISLAM

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Paulus dari Tarsus adalah tokoh yang sangat penting dalam agama Kristen. Dalam Roma pasal 11 ayat 13, ia menyebut dirinya sebagai Rasul bagi orang-orang non-Yahudi. Setelah Paulus dan Barnabas menyebarkan ajaran Kristen di Antiokhia, banyak orang non-Yahudi yang tertarik untuk bergabung dalam iman ini. Mereka berusaha menyebarkan agama Kristen di luar komunitas Yahudi (Lihat: Paul Suparno, Communal Discernment (Yogyakarta: Kanisius, 2007), hlm 9-14 ).

Namun, hal ini menimbulkan konflik dengan komunitas Kristen Yahudi, terutama para pemimpin dan pengikut Yesus. Mereka mempertanyakan apakah orang-orang non-Yahudi harus mengikuti aturan sunat. Akhirnya, pada tahun 49 Masehi, diadakan Konsili Yerusalem, yang merupakan konsili pertama dalam sejarah Kristen. Konsili ini menyimpulkan bahwa orang-orang non-Yahudi yang menjadi Kristen tidak perlu disunat atau mengikuti pantangan makanan tradisi Yahudi. (Lihat: Albertus Sujoko, Identitas Yesus & Misteri Manusia (Yoyakarta: Kanisius, 2009) hlm, 115 )

Paulus menjadi topik hangat bagi umat Islam dan Kristen sendiri. Beberapa tokoh Muslim menganggap bahwa Paulus mengubah ajaran Nabi Isa dan mengangkat Isa sebagai Tuhan, seperti yang tercantum dalam Tafsir Al-Khazin dan Al-Fashl fi Al-Milal wa Al-Ahwa` wan Al-Nihal karya Ibnu Hazm. Namun, bagi umat Kristen, Paulus adalah salah satu Rasul dalam iman Kristen dan surat-suratnya termasuk dalam bagian (teks suci) Perjanjian Baru dalam Alkitab (Bibble).

Saat ini, para apologetik Kristen mencari literatur Islam yang dapat melegitimasi status Paulus dalam pandangan Islam. Nama Paulus ternyata disebut dalam tafsiran surat Yasin ayat 13 hingga 14, yang mengisahkan penduduk suatu negeri yang menolak utusan-utusan yang dikirim kepada mereka.

"Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu penduduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka; (yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata: “Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu”. (QS Yasin 13-14)

Dalam tafsir karya Ibn Katsir, kelompok penduduk misterius ini disebut sebagai kaum Yasin. Namun, ayat ini tidak menjelaskan secara jelas identitas kelompok ini.

$ads={1}

Sebagian orang Kristen, terutama apologis Kristen, mengklaim bahwa ayat di atas merupakan bukti legitimasi 'kerasulan Paulus' dalam Islam, terutama dalam Al-Quran dan hadits Nabi. Klaim ini didasarkan pada beberapa tafsir umat Islam yang menyebutkan bahwa Rasul yang ketiga dalam ayat tersebut adalah Paulus. Mereka mengutip tafsir Ibnu Katsir yang menyatakan bahwa 

"Kami mendukung dan memperkuat mereka dengan utusan ketiga. (ayat) ‘ Ibn Jurayj mengisahkan dari Wahb bin Sulayman, dari Shu`ayb Al-Jaba’i, “Nama-nama utusan pertama dan kedua adalah Sham’un (Simon) dan Yuhanna (Yohanes), dan nama utusan ketiga adalah Bulus (Paulus), dan nama kota adalah Antiokhia. 

Meskipun tafsir Ibnu Katsir masih mengandung riwayat tersebut, tidak hanya tafsir Ibnu Katsir yang menyebutkan hal ini, tetapi juga Tafsir Baghawi, Syaukani, Khazin, Qurthubi, serta kitab-kitab lain seperti Tarikh Ibn Ishaq, Qashashul Anbiya, Bidayah wa Nihayah Ibn Kathir, Sirah Ibn Hisyam, Fathul Bari Imam Ibn Hajar yang juga mengutip dari Ibn Ishaq. 

Dari berbagai literatur tersebut, dapat disimpulkan bahwa penulis kitab-kitab tersebut umumnya mengutip riwayat yang sama, yaitu riwayat dari Ibnu Juraij dari Wahb bin Sulaiman dari Syu'aib Al-Jabba'i. Ibnu Juraij sendiri memiliki kitab tafsir dan dianggap sebagai kitab tafsir tertua. Dalam konteks ini, dapat dipahami bahwa literatur-literatur yang disebutkan sebelumnya kemungkinan mengutip dari kitab Tafsir Ibn Juraij. Selanjutnya, Ibn Juraij mengutip riwayat dari Wahb bin Sulaiman yang dikutip dari Syu'aib Al-Jabba'i.

Baca juga: Pendeta Terkemuka di Amerika Hilarion Heagy Masuk Islam

Namun, karena riwayat ini terputus pada Syu'aib Al-Jabba'i, maka riwayat ini bukan berasal dari hadits Nabi Muhammad. Oleh karena itu, salah jika ada yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad atau Hadits mengkonfirmasi nama Paulus, karena riwayat ini bukan hadits dan tidak berasal dari Nabi Muhammad.

Dalam buku Al-Israiliyyat wa Atharuha fi Al-Kutub Al-Tafsir, Dr. Ramzi Na'na'ah menjelaskan bahwa Syu'aib Al-Jabba'i adalah seorang perawi yang sering meriwayatkan cerita-cerita dari Ahlul Kitab (israiliyat). Oleh karena itu, tidak mengherankan jika riwayat ini sangat cocok dengan ajaran Kristen (Lihat: Ramzi Na’na`ah, Al-Israiliyat wa Astruha fi al- Kutub Al-Tafsir (Beirut: Dar Dhiya, 1970), hlm. 77). Namun, perlu ditekankan bahwa tidak semua riwayat israiliyat dapat diterima begitu saja, sehingga riwayat-riwayat israiliyat ini harus diteliti ulang untuk memastikan keabsahan sanad dan matannya.

Menurut Ilmu Rijal (ilmu yang khusus menelaah profil perawi hadis), riwayat-riwayat dari Syu'aib Al-Jabba'i yang memiliki nama lengkap Syu'aib Al-Aswad Al-Jabba'i ini dikomentari sebagai matruk. Seperti yang disebutkan dalam kitab Lisan Al-Mizan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani, kitab Mizan Al-'Itidal oleh Adz-Dzahabi, serta dalam kitab Tsiqat oleh Ibn Hibban yang dikutip oleh Syaikh Ibnu Nashiruddin Ad-Dimasyqi dalam kitabnya Taudhih Al-Musytabah. Riwayat dikatakan matruk jika terdapat kecacatan pada perawi yang dituduh berdusta. Riwayat matruk berarti riwayat yang tertolak, sehingga tidak dapat dijadikan referensi. Jika riwayat maudhu' adalah tingkat dha'if yang paling buruk, maka tingkatan berikutnya adalah matruk (Lihat: Syaikh Manna' Al-Qaththan, Pengantar Studi Ilmu Hadits (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2005), hlm. 149).

Dilihat dari sudut pandang Ilmu Jarh wa Ta'dil hadits, tingkatan matruk yang dikaitkan dengan Syu'aib Al-Jabba'i ini merupakan tingkatan keempat dalam klasifikasi jarh. Syaikh Manna' Al-Qaththan menjelaskan bahwa jarh perawi dalam tingkatan keempat dan seterusnya tidak boleh digunakan sebagai hujjah, tidak boleh ditulis, dan tidak boleh dianggap sama sekali (Lihat: Syaikh Manna' Al-Qaththan, Pengantar Studi Ilmu Hadits (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2005), hlm. 90).

Kembali ke penafsiran surah Yasin ayat 13 hingga 29, menganggap bahwa lokasi penceritaan ayat tersebut berada di Antiokhia sebagaimana pendapat ulama salaf maupun khalaf merupakan pendapat yang lemah, sesuai dengan yang dikonfirmasi oleh Ibnu Katsir dalam kitabnya Qashashul Anbiya. Alasannya, penduduk kaum Yasin pada akhirnya mendapatkan azab, sedangkan Antiokhia tidak. Namun, menurut Ibnu Katsir, mungkin saja itu merujuk kepada Antiokhia kuno, namun hanya Allah yang mengetahui dengan pasti (Lihat: Ibnu Katsir, Kisah Para Nabi (Jakarta: Qisthi Press, 2015), hlm. 370-371).

Mengenai riwayat ini dalam tafsir Ibnu Katsir, mungkin beliau belum menemukan referensi tentang status perawinya. Atau mungkin ini adalah karakteristik tafsir beliau, karena tafsir Ibnu Katsir adalah tafsir bil ma'tsur, yang artinya menafsirkan Al-Quran dengan riwayat-riwayat dari Bani Israil yang sering disebut sebagai israiliyat, selain menafsirkan ayat dengan ayat, ayat dengan hadits, dan bahkan ayat dengan perkataan sahabat. 

Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir biasanya mencantumkan semua riwayat yang terkait dengan ayat yang sedang dibahas. Baru setelah itu, dia menjelaskan status-status riwayat tersebut. Namun, dia tidak mengkonfirmasi riwayat mana yang dapat diterima dan mana yang tidak. Bahkan dalam penafsiran ayat di atas, beliau juga memaparkan riwayat lain dari Ibnu Abbas, yang menyebutkan nama-nama Sadiq, Saduq, dan Syalum. Namun, riwayat ini juga belum dapat dikonfirmasi kebenarannya. Pada tahap ini, kita bisa memahami bahwa tafsir Ibnu Katsir bukanlah tafsir yang ditujukan untuk orang awam. 

Tidak heran jika pada tahun 2009 terjadi polemik terhadap isi buku Miracle The Reference yang mengutip nama Paulus dalam terjemahan ayat Yasin 13-14 tanpa melakukan konfirmasi terlebih dahulu mengenai status riwayatnya. Akhirnya, penerbit buku tersebut merevisi isi bukunya. Oleh karena itu, jika di masa depan ditemukan buku-buku terbaru dengan konten yang serupa, penulis mungkin menganggap riwayat tersebut dapat dijadikan sebagai hujjah. 

Kesimpulan

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pertama, penduduk Yasin dalam surat Yasin tidak dapat dikonfirmasikan sebagai penduduk negeri Antiokhia. Kedua, Paulus tidak pernah disebutkan dalam Al-Quran maupun Hadits seperti yang dikatakan oleh apologis Kristiani. Apa yang tertulis dalam tafsir bukan berarti tertulis dalam Al-Quran, dan tidak semua riwayat berasal dari Nabi Muhammad. Ketiga, riwayat Syu'aib Al-Jabba'i, khususnya tentang Paulus, dianggap tidak valid dan tidak dapat dijadikan referensi. Dengan demikian, klaim legitimasi Paulus dalam dunia Islam, terutama dalam penafsiran, dapat dipertanyakan.

Referensi: rabbanians.id

Ditulis oleh: rumah-muslimin

Demikian Artikel " Paulus Dalam Tafsir Ibnu Katsir dalam Pandangan Islam "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jamaah - 

Redaksi

Rumah Muslimin Grup adalah Media Dakwah Ahlusunnah Wal jama'ah yang berdiri pada pertengahan tahun 2017 Bermazhab Syafi'i dan berakidah Asyariyyah. Bagi sobat rumah-muslimin yang suka menulis, yuk kirimkan tulisannya ke email kami di dakwahislamiyah93@gmail.com

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama
close