Polemik Nasab Habib Ba Alawi: Terbukti Keturunan Nabi Muhammad

POLEMIK NASAB HABIB BA ALAWI: TERBUKTI KETURUNAN NABI MUHAMMAD

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Perdebatan terkait isu Ba'alawi keturunan Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam atau bukan sepertinya belum menemui titik temu hingga saat ini. Padahal perdebatan/isu ini sudah ada sejak jaman dahulu dan telah dibahas tuntas oleh jumhur ulama serta menemui kesepakatan bahwa ba'alawi merupakan keturunan Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam dan dihukumi shahih.

Beberapa ulama dan lembaga yang meyakini keshahihan nasab ba'alawi diantaranya Raja Yaman (Imam Zaidiyah), Lembaga Pencatatan Nasab di Iran, Syekh Yusuf Al-Nabhani dalam kitabnya رياض الجنة dan lain sebagainya. Jika kami sebutkan satu persatu, tentu sangatlah banyak yang mesti dicantumkan.

Para ulama sepuh NU seperti KH. Maimun Zubair hingga pendiri Nahdlatul ulama sangat dekat dengan beberapa Habaib salah satunya Habib Ahmad bin Abdullah Assegaf, bahkan kedekatannya sampai dicantumkan nama beliau di Qanun Asasi NU, selain itu KH. Hasyim As'yari juga rutin mengamalkan Ratib Al-Haddad. 

Melihat dari berbagai kedekatan dan bukti diatas seharusnya warga NU dan pecinta Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam tidak perlu meragukan nasab ba'alawy, apalagi ulama-ulama seperti KH Hasyim Asy'ari dan Mbah Maimun yang dikenal sebagai waliyullah pasti memiliki pandangan bashiroh yang bisa mengetahui apakah ba'alawy habaib atau tidaknya. Namun pada faktanya, kedekatan kedua ulama besar ini pada klan ba'alawi sangat begitu erat dan bahkan saling bergotong royong dalam menyebarkan dakwah Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam di nusantara.

$ads={1}

Hanya Karena Tidak ada Kitab Sejaman?

Hal yang terus digaungkan oleh Kyai Imaduddin dan pengikut setianya adalah karena tidak ada kitab sejaman. Ia menyebutkan bahwasannya rentang jarak kitab yang tidak ditemui yaitu kisaran 400-500 tahun. Gus Rumail Abbas sebagai peneliti nasab mencoba me-research berbagai referensi/kitab lainnya adakah ulama yang mencatat, pada akhirnya beliau menemukan beberapa kitab dan dapat memangkas menjadi 100-200 tahun saja, namun hal ini tetap ditolak oleh Kyai Imaduddin dan kawan-kawannya dan mesti kekeh kitab sejaman.

Faktanya, sejarah mencatat bahwa ulama dahulu yang membuat kitab ilmiah pernasaban itu sangat jarang sekali. Kebanyakan para ulama dahulu membuat kitab fiqih, tasawuf, tafsir dan lain sebagainya. Bisa saja ketemu kitab sejaman jika benar-benar difokuskan, masalahnya adalah sulitnya akses yang didapatkan di zaman seperti saat ini, apalagi terkait manuskrip kuno dan kitab nasab yang tentunya sangat langkah sekali yang dibuat pada zamannya.

Baca juga: Menjawab Tuduhan yang Menyatakan Habib Luthfi bin Yahya Keturunan Yahudi

Hanya karena tidak ada kitab sejaman sekitar 100-200 tahun kelompok kyai imaduddin menyebut bahwa nasab ba'alawy diragukan/terputus. Ini sangat-sangat tidak masuk akal/diluar nalar. Jika ingin berbicara ilmiah, maka tidak ada namanya Keturunan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam hingga saat ini. 

Jika Kyai Imaduddin dan rekan-rekannya tetap kekeh untuk meminta bukti ilmiah kitab yang sejaman maka hadits munculnya imam mahdi ini tidak akan berlaku:

لَا تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى يَلِيَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي يُوَاطِئُ اسْمُهُ إسمي

Artinya: "Hari kiamat tidak terjadi sebelum seorang lelaki dari ahlul baitku (Rasulullah) memimpin. Namanya sama dengan namaku." (HR Ahmad)

Begitupun hadits-hadits lainnya yang berkaitan satu sama lain, khususnya terkait akhir zaman dan keturunan Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam.

Mesti Melakukan Tes DNA?

Hal yang membuat polemik ini menjadi lebih menarik yaitu pihak Kyai Imaduddin dan rekan-rekan meminta klan ba'alawy untuk melakukan tes DNA.

Ini merupakan sesuatu hal yang konyol dan tidak masuk akal, sebab apa? dari mana sampel melakukan tes DNA? siapakah keturunan Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam yang saat ini valid? siapakah yang telah melakukan tes DNA? sedangkan hingga saat ini belum ada kitab silsilah nasab Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang benar-benar sejaman, terlebih lagi nasab wali songo yang mereka (keturunannya) baru meneliti 3-4 tahun terakhir, itupun banyaknya perbedaan pendapat antar dzurriyatnya. Lalu siapa sampelnya kalau begitu?

Baca juga: Dari Mana Sampel Tes DNA Keturunan Nabi Muhammad? Ini Jawabannya

Diah Purnamasari Zuhair, salah satu dzurriyat KH. Ahmad Dahlan dalam suatu komentar mengatakan bahwa metode tes DNA itu tingkat validnya hanya sampai 3 generasi dan jika ingin menggunakan metode yang valid yaitu dengan manuskrip kuno:

Pada intinya, saya lebih sepakat pada seorang ahli biologi yang pernah saya mintai pendapat (apalagi beliau memang sehari2 di lab) bahwa test DNA itu batas validnya hanya sampai generasi ke-3. Kalau sudah generasi ke-4 dst itu sudah kecil sekali bisa ditemukan persamaan genetiknya. Apalagi kalau dari generasi 1 sampai dengan 3 nikahnya dengan bangsa2 lain. Kalau misalnya generasi2 tsb lahir dari penikahan antar sepupu, masih mungkin agak tebal, itu pun dengan resiko akan terjadi kerusakan genetik akibat perkawinan terlalu dekat.

Apalagi ini kita dengan Rasulullah... Sudah lebih dari 40 generasi... Deviasinya akan besar sekali... Sudah 99,999999% impossible bisa ditemukan persamaan genetiknya dengan Rasul...

Jadi sebenarnya metode DNA ini gak bisa dipakai untuk hujjah...

Masih lebih bagus metode manuskrip daripada DNA. Dengan manuskrip validitasnya masih 80-90%. Terjadi deviasi biasanya akibat garis perempuan tidak tercatat, atau terjadi perbedaan penafsiran pada saat penerjemahan manuskrip kuno untuk "anak" dan "menantu" atau bahkan "cucu". Ada kalanya seorang menantu ditafsirkan sebagai anak, atau cucu ditafsirkan sebagai anak, atau sebenarnya statusnya anak tetapi tidak terakui oleh penafsir karena nama ibunya tidak tercatat sehingga menunggu data penguat yang lain terlebih dulu untuk dapat divalidasi...

Database Familiytreedna

Selain itu, Database yang dimiliki dari situs tes DNA yaitu familytreedna.com ada ribuan kode J1 yang digolongkan ke Yahudi Ashkenazi sedangkan pihak dari Kyai Imaduddin mengatakan bahwa kode J1 merupakan keturunan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Bagaimana mungkin kode yang sama dengan nasab yang berbeda? Rasulullah kenapa bisa digolongkan dengan kelompok Yahudi? padahal Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam dari kalangan bani ismail. Sungguh sangat kontradiksi dan membingungkan.


Berikut beberapa bukti golongan Yahudi dimasukkan ke kromosom J1, silahkan buka linknya di bawah ini:

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Harun_kromosom-Y...

https://www.familytreedna.com/public/J-M267/default.aspx...

https://jewishdna.net/J1-YSC76.html...

https://jewishdna.net/J1-YSC76.html...

https://www.familytreedna.com/public/J-M267/default.aspx...

Karena hal inilah tes DNA tidak bisa digunakan sebagai rujukan menentukan seseorang apakah Dzurriyat Nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam apa bukannya, apalagi tingkat validnya hanya sampai 3 generasi saja. Jika tetap dipaksakan, namanya bukan ilmiah, tapi ilmira (ilmiah sesuai selera).

Kesimpulan

Pada kesimpulannya, persoalan nasab ba'alawy ini sebenarnya sudah pernah dibahas oleh ulama zaman dahulu dan telah sepakat terkait keabsahan nasab ba'alawy. Adapun kelompok/golongan sekarang yang masih terus menyatakan bahwa ba'alawy bukan keturunan Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam karena rasa kebencian dan ketidaksukaannya kepada habaib yang berdakwah di nusantara, wa bil khusus karena ras arabnya.

Dr. KH. Ahmad Fahrur Rozi dalam tulisannya mengatakan:

"Argumentasi Pak Imaduddin menolak nasab Bani Alawi pada intinya hanya soal tidak tercatat dalam kitab sezamannya.  Hal ini tidak ada dasarnya secara ilmu fiqh. Karena syarat penetapan nasab dalam kitab fiqh empat madzhab cukup hanya syuhroh wal istifadloh di mana sudah jelas tertulis dalam berbagai manuskrip, kitab dan telah diakui oleh masyarakat setempat berdasarkan fenomena yang terjadi di zaman Rosulullah saw, bahwa para Sahabat RA menisbatkan diri mereka kepada kabilah-kabilah dan datuk-datuk mereka, meski demikian Rasulullah Saw tidak menuntut mereka untuk menghadirkan bukti-bukti atas kebenaran nasab tersebut, Rasulullah menjadikan informasi yang telah populer (Istifadhoh) secara turun temurun tentang keabsahan nasabnya sebagai patokan selama tak ada yang menganulirnya, dan berbagai hukumpun dibangun atas dasar ini. "

Selain itu, melihat dari track recordnya, Kyai Imaduddin merupakan mantan aktivis FPI dan pernah masuk struktural yang dipimpin oleh Habib Rizieq Syihab. Menurut rumor yang beredar, beliau keluar karena merasa kecewa karena tidak dianggap sebagai Dzurriyat Nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam dari jalur wali songo. Apakah atas dasar motif ini Kyai Imaduddin menyerang ba'alawi? Wallahu a'lam Bishowab

Sebab dulu, Kyai Imaduddin sangat menghormati para habaib dan mengakui keabsahan nasab Ba'alawy.

Bagaimana sikap sebagai orang awam?

Lebih baik kita mengambil jalur selamat, menyatakan bahwa Ba'alawy merupakan keturunan Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam menurut guru-guru kita, para ulama sepuh NU dan ulama-ulama dahulu. Jika kita sampai katakan ba'alawi bukan dzurriyat nabi, maka ditakutkannya bersiap-siaplah berhadapan dengan datuknya, yakni Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam di akhirat kelak jika itu benar adanya.

Semoga Allah memberikan kita semua inayah dan hidayahnya. Aamiin ya rabbal 'alaamiin.

Sumber: Nyai Raden Linawati, Diah Purnamasari Zuhair dan lain-lain

Ditulis: rumah-muslimin.com

Demikian Artikel " Polemik Nasab Habib Ba Alawi: Terbukti Keturunan Nabi Muhammad "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jamaah - 

Redaksi

Rumah Muslimin Grup adalah Media Dakwah Ahlusunnah Wal jama'ah yang berdiri pada pertengahan tahun 2017 Bermazhab Syafi'i dan berakidah Asyariyyah. Bagi sobat rumah-muslimin yang suka menulis, yuk kirimkan tulisannya ke email kami di dakwahislamiyah93@gmail.com

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama
close